Asma Bronkiale

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ASMA BRONKIAL

  1. 1.      Pengartian

Asma Bronkial adalah penyakit pernafasan obstruktif yang ditandai oleh spame akut otot polos bronkiolus. Hal ini menyebabkan obsktrusi aliran udara dan penurunan ventilasi alveolus.

( Huddak & Gallo, 1997 )

       Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronchi berspon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu.

( Smeltzer, 2002 : 611)

Asma adalah obstruksi jalan nafas yang bersifat reversibel, terjadi ketika bronkus mengalami inflamasi/peradangan dan hiperresponsif. (Reeves, 2001 : 48)

 

  1. 2.      Penyebab
    1. Faktor Ekstrinsik (asma imunologik / asma alergi)

–         Reaksi antigen-antibodi

–         Inhalasi alergen (debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang)

  1. Faktor Intrinsik (asma non imunologi / asma non alergi)

–         Infeksi : parainfluenza virus, pneumonia, mycoplasmal

–         Fisik : cuaca dingin, perubahan temperatur

–         Iritan : kimia

–         Polusi udara : CO, asap rokok, parfum

–         Emosional : takut, cemas dan tegang

–         Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.

(Suriadi, 2001 : 7)

 

 

 

3.      TANDA DAN GEJALA

  1. 1.       Stadium dini

Faktor hipersekresi yang lebih menonjol

a. Batuk dengan dahak bisa dengan maupun tanpa pilek

b. Rochi basah halus pada serangan kedua atau ketiga, sifatnya hilang timbul

c. Whezing belum ada

d.Belum ada kelainan bentuk thorak

e. Ada peningkatan eosinofil darah dan IG E

  1. BGA belum patologis
    1. Timbul sesak napas dengan atau tanpa sputum
    2. Whezing
    3. Ronchi basah bila terdapat hipersekresi
    4. Penurunan tekanan parsial O2

Faktor spasme bronchiolus dan edema yang lebih dominan

2. Stadium lanjut/kronik

  1. Batuk, ronchi
  2. Sesak nafas berat dan dada seolah –olah tertekan
  3. Dahak lengket dan sulit untuk dikeluarkan
  4. Suara nafas melemah bahkan tak terdengar (silent Chest)
  5. Thorak seperti barel chest
  6. Tampak tarikan otot sternokleidomastoideus
  7. Sianosis
  8. BGA Pa O2 kurang dari 80%
  9. Ro paru terdapat peningkatan gambaran bronchovaskuler kanan dan kiri
  10. Hipokapnea dan alkalosis bahkan asidosis respiratorik

(Halim Danukusumo, 2000, hal 218-229)

 

 

 

  1. 4.      Patofisiologo / Pathways

 

 

Spasme otot                     Sumbatan                  Edema                 Inflamasi

bronchus                           mukus                                                   dinding bronchus

 

 

Mk : Tak efektif                  Obstruksi sal nafas                 Alveoli tertutup

bersihan                     ( bronchospasme )

jalan nafas

Hipoksemia       Mk : Gg Pertuka

ran gas

 

 

Penyempitan jalan                Asidosis metabolik

nafas

 

 

Peningkatan kerja             Mk : Kurang pengetahuan

pernafasan

 

Peningkatan kebut                     Penurunan

oksigen                                masukan oral

 

 

Hyperventilasi                          Mk : Perub nutrisi

kurang dari

kebutuhan tbh

Retensi CO2

 

Asidosis respiratorik

5.      Tanda dan gejala

Bising mengi (wheezing) yang terdengar dengan/tanpa stetoskop

Batuk produktif, sering pada malam hari

Nafas atau dada seperti tertekan, ekspirasi memanjang

  1. 6.      Pemeriksaan penunjang

Spirometri

Uji provokasi bronkus

Pemeriksaan sputum

Pemeriksaan cosinofit total

Uji kulit

Pemeriksaan kadar IgE total dan IgE spesifik dalam sputum

Foto dada

Analisis gas darah

 

  1. 7.      Pengkajian
  2. Awitan distres pernafasan tiba-tiba

–  Perpanjangan ekspirasi mengi

–  Penggunaan otot-otot aksesori

–  Perpendekan periode inpirasi

–  Sesak nafas

–  Restraksi interkostral dan esternal

–  Krekels

  1. Bunyi nafas : mengi, menurun, tidak terdengar
  2. Duduk dengan posisi tegak : bersandar kedepan
  3. Diaforesis
  4. Distensi vera leher
  5. Sianosis : area sirkumoral, dasar kuku
  6. Batuk keras, kering : batuk produktif sulit
  7. Perubahan tingkat kesadaran
  8. Hipokria
  9. Hipotensi
  10. Pulsus paradoksus > 10 mm
  11. Dehidrasi
  12. Peningkatan anseitas : takut menderita, takut mati

 

  1. 8.      Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Timbul

Tidak efektifnya bersihan jalan nafas b.d bronkospasme : peningkatan produksi sekret, sekresi tertahan, tebal, sekresi kental : penurunan energi/kelemahan

Kerusakan pertukaran gas b.d gangguan suplai oksigen, kerusakan alveoli

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan masukan oral

Kurang pengetahuan b.d kurang informasi/tidak mengenal sumber informasi

  1. 9.      Intervensi Keperawatan

DP       : Tidak efektifnya bersihan jalan nafas

Tujuan : Bersihan jalan nafas efektif

KH      : – Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih/jelas

– Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas

mis : batuk efektif dan mengeluarkan sekret

Intervensi

  • Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, mis; mengi, krekels, ronki
  • Kaji/pantau frekuensi pernafasan
  • Catat adanya/derajat diespnea  mis : gelisah, ansietas, distres pernafasan, penggunaan otot bantu
  • Kaji pasien untuk posisi yang nyaman mis : peninggian kepala tempat tidur, duduk pada sandaran tempat tidur
  • Pertahankan polusi lingkungan minimum
  • Dorong/bantu latihan nafas abdomen/bibir
  • Observasi karakteristik batuk mis : menetap, batuk pendek, basah
  • Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hr ss toleransi jantung dan memberikan air hangat, anjurkan masukkan cairan sebagai ganti makanan
  • Berikan obat sesuai indikasi
  • Awasi/buat grafik seri GDA, nadi oksimetri, foto dada

 

DP       :  Kerusakan pertukaran gas

Tujuan :  Pertukaran gas efektie dan adekuat

KH      :  -Menunjukkan perbaikan vertilasi dan oksigen jaringan adekuat dalam rentang normal dan bebas gejala distres pernafasan

-Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam tingkat kemampuan /situasi

Intervensi

  • Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan, catat penggunaan otot aksesori, nafas bibir, ketidak mampuan bicara/berbincang
  • Tingguikan kepala tempat tidur, pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernafas, dorong nafas dalam perlahan / nafas bibir sesuai kebutuhan / toleransi individu.
  • Dorong mengeluarkan sputum : penguapan bila diindikasikan.
  • Auskultasi bunyi nafas, catat area penurunan aliran udara dan / bunyi tambahan.
  • Awasi tingkat kesadaran / status mental, selidiki adanya perubahan.
  • Evaluasi tingkat toleransi aktivitas.
  • Awasi tanda vital dan irama jantung.
  • Awasi / gambarkan seri GDA dan nadi oksimetri.
  • Berikan oksigen yang ssi idikasi hasil GDA dan toleransi pasien.

C.     DP          : Perubahan nutrisi kurang dari tubuh

Tujuan    : Kebutuhan nutrisi terpenuhi

Kh          : –   Menunjukan peningkatan BB

–   Menunjukan perilaku / perubahan pada hidup untuk meningkatkan dan / mempertahanka berat yang tepat.

Intervensi :

Kaji kebiasaan diet, masukan makanan, catat derajat kesulitan makan, evaluasi BB.

Avskultasi bunyi usus.

Berikan perawatan oral sering, buang sekret.

Dorong periode istirahat, 1jam sebelum dan sesudah makan berikan makan porsi kecil tapi sering.

Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.

Hindari maknan yang sangat panas / dingin.

Timbang BB sesuai induikasi.

Kaji pemeriksaan laboratorium, ex : alb.serum.

 

D.     DP          : Kurang  pengetahuan

Tujuan     : Pengetahuan miningkat

KH         : –  Menyatakan pemahaman kondisi / proses penyakit dan tindakan.

–  Mengidentifikasi hubungan tanda / gejala yang ada dari proses penyakit dan menghubung dengan faktor penyebab.

–  Melakukan perubahan pola hidup dan berparisipasi dalam program pengobatan.

Intervensi:

Jelaskan proses penyakit individu dan keluarga

Instrusikan untuk latihan nafas dan batuk efektif.

Diskusikan tentang obat yang digunakan, efek samping, dan reaksi yang tidak diinginkan

Beritahu tehnik pengguanaan inhaler ct : cara memegang, interval semprotan, cara membersihkan.

Tekankan pentingnya perawatan oral/kebersihan gigi

Beritahu efek bahaya merokok dan nasehat untuk berhenti merokok pada klien atau orang terdekat

Berikan informasi tentang pembatasan aktivitas.

 

 Daftar Pustaka

 

Arif Mansyoer(1999). Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga. Jilid I. Media    Acsulapius. FKUI. Jakarta.

Heru Sundaru(2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi Ketiga. BalaiPenerbit FKUI. Jakarta.

Hudack&gallo(1997). Keperawatan Kritis Edisi VI Vol I. Jakarta. EGC.

Doenges, EM(2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta. EGC.

Tucker, SM(1998). Standar Perawatan Pasien. Jakarta. EGC.

 

Aritmia

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ARITMIA

 

A.    Definisi

Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan komplikasi yang sering terjadi pada infark miokardium. Aritmia atau disritmia adalah perubahan pada frekuensi dan irama jantung yang disebabkan oleh konduksi elektrolit abnormal atau otomatis (Doenges, 1999). Aritmia timbul akibat perubahan elektrofisiologi sel-sel miokardium. Perubahan elektrofisiologi ini bermanifestasi sebagai perubahan bentuk potensial aksi yaitu rekaman grafik aktivitas listrik sel (Price, 1994). Gangguan irama jantung tidak hanya terbatas pada iregularitas denyut jantung tapi juga termasuk gangguan kecepatan denyut dan konduksi (Hanafi, 1996).

B.    Etiologi

Etiologi aritmia jantung dalam garis besarnya dapat disebabkan oleh :

  1. Peradangan jantung, misalnya demam reumatik, peradangan miokard (miokarditis karena infeksi)
  2. Gangguan sirkulasi koroner (aterosklerosis koroner atau spasme arteri koroner), misalnya iskemia miokard, infark miokard.
  3. Karena obat (intoksikasi) antara lain oleh digitalis, quinidin dan obat-obat anti aritmia lainnya
  4. Gangguan keseimbangan elektrolit (hiperkalemia, hipokalemia)
  5. Gangguan pada pengaturan susunan saraf autonom yang mempengaruhi kerja dan irama jantung
  6. Ganggguan psikoneurotik dan susunan saraf pusat.
  7. Gangguan metabolik (asidosis, alkalosis)
  8. Gangguan endokrin (hipertiroidisme, hipotiroidisme)
  9. Gangguan irama jantung karena kardiomiopati atau tumor jantung
  10. Gangguan irama jantung karena penyakit degenerasi (fibrosis sistem konduksi jantung)

C.    Macam – macam aritmia

  1. Sinus Takikardi

Meningkatnya aktifitas nodus sinus, gambaran yang penting pada ECG adalah : laju gelombang lebih dari 100 X per menit, irama teratur dan ada gelombang P tegak disandapan I,II dan aVF.

  1. Sinus bradikardi

Penurunan laju depolarisasi atrim. Gambaran yang terpenting pada ECG adalah laju kurang dari 60 permenit, irama teratur, gelombang p tgak disandapan I,II dan aVF.

  1. Komplek atrium prematur

Impul listrik yang berasal di atrium tetapi di luar nodus sinus menyebabkan kompleks atrium prematur, timbulnya sebelu denyut sinus berikutnya. Gambaran ECG menunjukan irama tidak teratur, terlihat gelombang P yang berbeda bentuknya dengan gelombang P berikutnya.

  1. Takikardi Atrium

Suatu episode takikardi atrium biasanya diawali oleh suatu kompleks atrium prematur sehingga terjadi reentri pada tingkat nodus AV.

  1. Fluter atrium.

Kelainan ini karena reentri pada tingkat atrium. Depolarisasi atrium cept dan teratur, dan gambarannya terlihat terbalik disandapan II,III dan atau aVF seperti gambaran gigi gergaji

  1. Fibrilasi atrium

Fibrilasi atrium bisa tibul dari fokus ektopik ganda dan atau daerah reentri multipel. Aktifitas atrium sangat cepat.sindrom sinus sakit

  1. Komplek jungsional prematur
  2. Irama jungsional
  3. Takikardi ventrikuler

D.    Pathofisiologi

Terlampir

D.    Manifestasi klinis

  1. Perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin tidak teratur; defisit nadi;  bunyi jantung irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun; kulit pucat, sianosis, berkeringat; edema; haluaran urin menurun bila curah jantung menurun berat.
  2. Sinkop, pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi, perubahan pupil.
  3. Nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan obat antiangina, gelisah
  4. Nafas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman pernafasan; bunyi nafas tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi pernafasan seperti pada gagal jantung kiri (edema paru) atau fenomena tromboembolitik pulmonal; hemoptisis.
  5. demam; kemerahan kulit (reaksi obat); inflamasi, eritema, edema (trombosis siperfisial); kehilangan tonus otot/kekuatan

E.    Pemeriksaan Penunjang

  1. EKG   : menunjukkan pola cedera iskemik dan gangguan konduksi. Menyatakan tipe/sumber disritmia dan efek ketidakseimbangan elektrolit dan obat jantung.
  2. Monitor Holter            : Gambaran EKG (24 jam) mungkin diperlukan untuk menentukan dimana disritmia disebabkan oleh gejala khusus bila pasien aktif (di rumah/kerja). Juga dapat digunakan untuk mengevaluasi fungsi pacu jantung/efek obat antidisritmia.
  3. Foto dada       : Dapat menunjukkanpembesaran bayangan jantung sehubungan dengan disfungsi ventrikel atau katup
  4. Skan pencitraan miokardia     : dapat menunjukkan aea iskemik/kerusakan miokard yang dapat mempengaruhi konduksi normal atau mengganggu gerakan dinding dan kemampuan pompa.
  5. Tes stres latihan          : dapat dilakukan utnnuk mendemonstrasikan latihan yang menyebabkan disritmia.
  6. Elektrolit         : Peningkatan atau penurunan kalium, kalsium dan magnesium dapat mnenyebabkan disritmia.
  7. Pemeriksaan obat       : Dapat menyatakan toksisitas obat jantung, adanya obat jalanan atau dugaan interaksi obat contoh digitalis, quinidin.
  8. Pemeriksaan tiroid     : peningkatan atau penururnan kadar tiroid serum dapat menyebabkan.meningkatkan disritmia.
  9. Laju sedimentasi         : Penignggian dapat menunukkan proses inflamasi akut contoh endokarditis sebagai faktor pencetus disritmia.
  10. GDA/nadi oksimetri    : Hipoksemia dapat menyebabkan/mengeksaserbasi disritmia.

F.     Penatalaksanaan Medis

  1. Terapi medis

Obat-obat antiaritmia dibagi 4 kelas yaitu :

a. Anti aritmia Kelas 1            : sodium channel blocker

  • § Kelas 1 A

Quinidine adalah obat yang digunakan dalam terapi pemeliharaan untuk mencegah berulangnya atrial fibrilasi atau flutter.

Procainamide untuk ventrikel ekstra sistol atrial fibrilasi dan aritmi yang menyertai anestesi.

Dysopiramide untuk SVT akut dan berulang

  • § Kelas 1 B

Lignocain untuk aritmia ventrikel akibat iskemia miokard, ventrikel takikardia.

Mexiletine untuk aritmia entrikel dan VT

  • § Kelas 1 C

Flecainide untuk ventrikel ektopik dan takikardi

  1. Anti aritmia Kelas 2 (Beta adrenergik blokade)

Atenolol, Metoprolol, Propanolol : indikasi aritmi jantung, angina pektoris dan hipertensi

  1. Anti aritmia kelas 3 (Prolong repolarisation)

Amiodarone, indikasi VT, SVT berulang

  1. Anti aritmia kelas 4 (calcium channel blocker)

Verapamil, indikasi supraventrikular aritmia

  1. Terapi mekanis
    1. Kardioversi  : mencakup pemakaian arus listrik untuk menghentikan disritmia yang memiliki kompleks GRS, biasanya merupakan prosedur elektif.
    2. Defibrilasi    : kardioversi asinkronis yang digunakan pada keadaan gawat darurat.
    3. Defibrilator kardioverter implantabel          : suatu alat untuk mendeteksi dan mengakhiri episode takikardi ventrikel yang mengancam jiwa atau pada pasien yang resiko mengalami fibrilasi ventrikel.
    4. Terapi pacemaker    : alat listrik yang mampu menghasilkan stimulus listrik berulang ke otot jantung untuk mengontrol frekuensi jantung.

G.   Pengkajian

Pengkajian primer :

  1. Airway

¨      Apakah ada peningkatan sekret ?

¨      Adakah suara nafas : krekels ?

  1. Breathing

¨      Adakah distress pernafasan ?

¨      Adakah hipoksemia berat ?

¨      Adakah retraksi otot interkosta, dispnea, sesak nafas ?

¨      Apakah ada bunyi whezing ?

  1. Circulation

¨      Bagaimanakan perubahan tingkat kesadaran ?

¨      Apakah ada takikardi ?

¨      Apakah ada takipnoe ?

¨      Apakah haluaran urin menurun ?

¨      Apakah terjadi penurunan TD ?

¨      Bagaimana kapilery refill ?

¨      Apakah ada sianosis ?

Pengkajian sekunder

  1. Riwayat penyakit
  • § Faktor resiko keluarga contoh penyakit jantung, stroke, hipertensi
  • § Riwayat IM sebelumnya (disritmia), kardiomiopati, GJK, penyakit katup jantung, hipertensi
  • § Penggunaan obat digitalis, quinidin dan obat anti aritmia lainnya kemungkinan untuk terjadinya intoksikasi
  • § Kondisi psikososial
  1. Pengkajian fisik
    1. Aktivitas       : kelelahan umum
    2. Sirkulasi       : perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin tidak teratur; defisit nadi;  bunyi jantung irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun; kulit warna dan kelembaban berubah misal pucat, sianosis, berkeringat; edema; haluaran urin menruun bila curah jantung menurun berat.
    3. Integritas ego           : perasaan gugup, perasaan terancam, cemas, takut, menolak,marah, gelisah, menangis.
    4. Makanan/cairan      : hilang nafsu makan, anoreksia, tidak toleran terhadap makanan, mual muntah, peryubahan berat badan, perubahan kelembaban kulit
    5. Neurosensori           : pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi, perubahan pupil.
    6. Nyeri/ketidaknyamanan       : nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan obat antiangina, gelisah
    7. Pernafasan  : penyakit paru kronis, nafas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman pernafasan; bunyi nafas tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi pernafasan seperti pada gagal jantung kiri (edema paru) atau fenomena tromboembolitik pulmonal; hemoptisis.
    8. Keamanan   : demam; kemerahan kulit (reaksi obat); inflamasi, eritema, edema (trombosis siperfisial); kehilangan tonus otot/kekuatan

H.    Diagnosa keperawatan dan Intervensi

1.        Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan konduksi elektrikal, penurunan kontraktilitas miokardia.

Kriteria hasil   :

  1. Mempertahankan/meningkatkan curah jantung adekuat yang dibuktikan oleh TD/nadi dalam rentang normal, haluaran urin adekuat, nadi teraba sama, status mental biasa
  2. Menunjukkan penurunan frekuensi/tak adanya disritmia
  3. Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan kerja miokardia.

Intervensi :

  1. Raba nadi (radial, femoral, dorsalis pedis) catat frekuensi, keteraturan, amplitudo dan simetris.
  2. Auskultasi bunyi jantung, catat frekuensi, irama. Catat adanya denyut jantung ekstra, penurunan nadi.
  3. Pantau tanda vital dan kaji keadekuatan curah jantung/perfusi jaringan.
  4. Tentukan tipe disritmia dan catat irama : takikardi; bradikardi; disritmia atrial; disritmia ventrikel; blok jantung
  5. Berikan lingkungan tenang. Kaji alasan untuk membatasi aktivitas selama fase akut.
  6. Demonstrasikan/dorong penggunaan perilaku pengaturan stres misal relaksasi nafas dalam, bimbingan imajinasi
  7. Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas dan faktor penghilang/pemberat. Catat petunjuk nyeri non-verbal contoh wajah mengkerut, menangis, perubahan TD
  8. Siapkan/lakukan resusitasi jantung paru sesuai indikasi
  9. Kolaborasi :

m. Pantau pemeriksaan laboratorium, contoh elektrolit

  1. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
  2. Berikan obat sesuai indikasi : kalium, antidisritmi
  3. Siapkan untuk bantu kardioversi elektif
  4. Bantu pemasangan/mempertahankan fungsi pacu jantung
  5. Masukkan/pertahankan masukan IV
  6. Siapkan untuk prosedur diagnostik invasif
  7. Siapkan untuk pemasangan otomatik kardioverter atau defibrilator

2.        Kurang pengetahuan tentang penyebab atau kondisi pengobatan berhubungan dengan kurang informasi/salah pengertian kondisi medis/kebutuhan terapi.

Kriteria hasil   :

  1. menyatakan pemahaman tentang kondisi, program pengobatan
  2. Menyatakan tindakan yang diperlukan dan kemungkinan efek samping obat

Intervensi :

  1. Kaji ulang fungsi jantung normal/konduksi elektrikal
  2. Jelakan/tekankan masalah aritmia khusus dan tindakan terapeutik pada pasien/keluarga
  3. Identifikasi efek merugikan/komplikasiaritmia khusus contoh kelemahan, perubahan mental, vertigo.
  4. Anjurkan/catat pendidikan tentang obat. Termasuk mengapa obat diperlukan; bagaimana dan kapan minum obat; apa yang dilakukan bila dosis terlupakan
  5. Dorong pengembangan latihan rutin, menghindari latihan berlebihan
  6. Kaji ulang kebutuhan diet contoh kalium dan kafein
  7. Memberikan informasi dalam bentuk tulisan bagi pasien untuk dibawa pulang
  8. Anjurkan psien melakukan pengukuran nadi dengan tepat
  9. Kaji ulang kewaspadaan keamanan, teknik mengevaluasi pacu jantung dan gejala yang memerlukan intervensi medis
  10. Kaji ulang prosedur untuk menghilangkan PAT contoh pijatan karotis/sinus, manuver Valsava bila perlu
DAFTAR PUSTAKA

1.      Hudak, C.M, Gallo B.M. Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik. Jakarta : EGC.1997

2.      Price, Sylvia Anderson. Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit. Alih bahasa Peter Anugrah. Editor Caroline Wijaya. Ed. 4. Jakarta : EGC ; 1994.

3.      Santoso Karo karo. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 1996

4.      Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.

5.      Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999

6.      Hanafi B. Trisnohadi. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Ed. 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 2001

Angina Pektoris

ANGINA PEKTORIS

 

  1. PENGERTIAN
  1. Angina pektoris adalah nyeri dada yang ditimbukan karena iskemik miokard dan bersifat sementara atau reversibel.  (Dasar-dasar keperawatan kardiotorasik, 1993)
  2. Angina pektoris adalah suatu sindroma kronis dimana klien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu seperti ditekan, atau terasa berat di dada yang seringkali menjalar ke lengan sebelah kiri yang timbul pada waktu aktifitas dan segera hilang bila aktifitas berhenti.  (Prof. Dr. H.M. Sjaifoellah Noer, 1996)
  3. Angina pektoris adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis rasa tidak nyaman yang biasanya terletak dalam daerah retrosternum. (Penuntun Praktis Kardiovaskuler)

 

  1. ETIOLOGI
  1. Ateriosklerosis
  2. Spasme arteri koroner
  3. Anemia berat
  4. Artritis
  5. Aorta Insufisiensi

 

  1. FAKTOR-FAKTOR RESIKO
  1. Dapat Diubah (dimodifikasi)
  2. Diet (hiperlipidemia)
  3. Rokok
  4. Hipertensi
  5. Stress
  6. Obesitas
  7. Kurang aktifitas
  8. Diabetes Mellitus
  9. Pemakaian kontrasepsi oral
  10. Tidak dapat diubah
    1. Usia
    2. Jenis Kelamin
    3. Ras
    4. Herediter
    5. Kepribadian tipe A

 

  1. FAKTOR PENCETUS SERANGAN

Faktor pencetus yang dapat menimbulkan serangan antara lain :

  1. Emosi
  2. Stress
  3. Kerja fisik terlalu berat
  4. Hawa terlalu panas dan lembab
  5. Terlalu kenyang
  6. Banyak merokok

 

 

  1. GAMBARAN KLINIS
  1. Nyeri dada substernal ataru retrosternal menjalar ke leher, tenggorokan daerah inter skapula atau lengan kiri.
  2. Kualitas nyeri seperti tertekan benda berat, seperti diperas, terasa panas, kadang-kadang hanya perasaan tidak enak di dada (chest discomfort).
  3. Durasi nyeri berlangsung 1 sampai 5 menit, tidak lebih daari 30 menit.
  4. Nyeri hilang (berkurang) bila istirahat atau pemberian nitrogliserin.
  5. Gejala penyerta : sesak nafas, perasaan lelah, kadang muncul keringat dingin, palpitasi, dizzines.
  6. Gambaran EKG : depresi segmen ST, terlihat gelombang T terbalik.
  7. Gambaran EKG seringkali normal pada waktu tidak timbul serangan.

 

  1. TIPE SERANGAN
  1. Angina Pektoris Stabil

q  Awitan secara klasik berkaitan dengan latihan atau aktifitas yang meningkatkan kebutuhan oksigen niokard.

q  Nyeri segera hilang dengan istirahat atau penghentian aktifitas.

q  Durasi nyeri 3 – 15 menit.

  1. Angina Pektoris Tidak Stabil

q  Sifat, tempat dan penyebaran nyeri dada dapat mirip dengan angina pektoris stabil.

q  Adurasi serangan dapat timbul lebih lama dari angina pektoris stabil.

q  Pencetus dapat terjadi pada keadaan istirahat atau pada tigkat aktifitas ringan.

q  Kurang responsif terhadap nitrat.

q  Lebih sering ditemukan depresisegmen ST.

q  Dapat disebabkan oleh ruptur plak aterosklerosis, spasmus, trombus atau trombosit yang beragregasi.

  1. Angina Prinzmental (Angina Varian).

q  Sakit dada atau nyeri timbul pada waktu istirahat, seringkali pagi hari.

q  Nyeri disebabkan karena spasmus pembuluh koroneraterosklerotik.

q  EKG menunjukkan elevaasi segmen ST.

q  Cenderung berkembang menjadi infaark miokard akut.

q  Dapat terjadi aritmia.

 

  1. PATOFISIOLOGI DAN PATHWAYS

Mekanisme timbulnya angina pektoris didasarkan pada ketidakadekuatan suply oksigen ke sel-sel miokardium yang diakibatkan karena kekauan arteri dan penyempitan lumen arteri koroner (ateriosklerosis koroner).  Tidak diketahui secara pasti apa penyebab ateriosklerosis, namun jelas bahwa tidak ada faktor tunggal yang bertanggungjawab atas perkembangan ateriosklerosis.  Ateriosklerosis merupakan penyakir arteri koroner yang paling sering ditemukan.  Sewaktu beban kerja suatu jaringan meningkat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat.  Apabila kebutuhan meningkat pada jantung yang sehat maka artei koroner berdilatasi dan megalirkan lebih banyak darah dan oksigen keotot jantung. Namun apabila arteri koroner mengalami kekauan atau menyempit akibat ateriosklerosis dan tidak dapat berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka terjadi iskemik (kekurangan suplai darah) miokardium.

Adanya endotel yang cedera mengakibatkan hilangnya produksi No (nitrat Oksid0 yang berfungsi untuk menghambat berbagai zat yang reaktif.  Dengan tidak adanya fungsi ini dapat menyababkan otot polos berkontraksi dan timbul spasmus koroner yang memperberat penyempitan lumen karena suplai oksigen ke miokard berkurang.  Penyempitan atau blok ini belum menimbulkan gejala yang begitu nampak bila belum mencapai 75 %.  Bila penyempitan lebih dari 75 % serta dipicu dengan aktifitas berlebihan maka suplai darah ke koroner akan berkurang.  Sel-sel miokardium menggunakan glikogen anaerob untuk memenuhi kebutuhan energi mereka.  Metabolisme ini menghasilkan asam laktat yang menurunkan pH miokardium dan menimbulkan nyeri.  Apabila kenutuhan energi sel-sel jantung berkurang, maka suplai oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot kembali fosforilasi oksidatif untuk membentuk energi.  Proses ini tidak menghasilkan asam laktat.  Dengan hilangnya asam laktat nyeri akan reda.

 

 

 

PATHWAYS  ANGINA PEKTORIS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Metabolisme anaerob

 

 

Asam Laktat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
  1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokard.
  2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan berkurangnya curah jantung.
  3. Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan ancaman kematian yang tiba-tiba.
  4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kodisi, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

 

  1. FOKUS INTERVENSI
  1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokard.

Intervensi :

q  Kaji gambaran dan faktor-faktor yang memperburuk nyeri.

q  Letakkan klien pada istirahat total selama episode angina (24-30 jam pertama) dengan posisi semi fowler.

q  Observasi tanda vital tiap 5 menit setiap serangan angina.

q  Ciptakanlingkunan yang tenang, batasi pengunjung bila perlu.

q  Berikan makanan lembut dan biarkan klien istirahat 1 jam setelah makan.

q  Tinggal dengan klien yang mengalami nyeri atau tampak cemas.

q  Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi.

q  Kolaborasi pengobatan.

  1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kurangnya curah jantung.

Intervensi :

q  Pertahankan tirah baring pada posisi yang nyaman.

q  Berikan periode istirahat adekuat, bantu dalam pemenuhan aktifitas perawatan diri sesuai indikasi.

q  Catat warna kulit dan kualittas nadi.

q  Tingkatkan katifitas klien secara teratur.

q  Pantau EKG dengan sering.

  1. Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan ancaman kematian yang tiba-tiba.

Intervensi :

q  Jelaskan semua prosedur tindakan.

q  Tingkatkan ekspresi perasaan dan takut.

q  Dorong keluarga dan teman utnuk menganggap klien seperti sebelumnya.

q  Beritahu klien program medis yang telah dibuat untuk menurunkan/membatasi serangan akan datang dan meningkatkan stabilitas jantung.

q  Kolaborasi.

  1. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kodisi, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Intervensi :

q  Tekankan perlunya mencegah serangan angina.

q  Dorong untuk menghindari faktor/situasi yang sebagai pencetus episode angina.

q  Kaji pentingnya kontrol berat badan, menghentikan kebiasaan merokok, perubahan diet dan olah raga.

q  Tunjukkan/ dorong klien untuk memantau nadi sendiri selama aktifitas, hindari tegangan.

q  Diskusikan langkah yang diambil bila terjadi serangan angina.

q  Dorong klien untuk mengikuti program yang telah ditentukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

  1. Corwin, Elizabeth, Buku Saku Patofisiologi, Jakarta, EGC, 2000.

 

  1. Chung, EK,  Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler, Jakarta, EGC, 1996

 

  1. Doenges, Marylinn E, Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC, 1998

 

  1. Engram, Barbara, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah volume 2, Jakarta, EGC, 1998

 

  1. Long, C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah 2,  Bandung, IAPK, 1996

 

  1. Noer, Sjaifoellah, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta, FKUI, 1996

 

  1. Price, Sylvia Anderson, Patofisiologi Buku I Jakarta, EGC, 1994

 

  1. ……., Dasar-dasar Keperawatan Kardiotorasik (Kumpulan Bahan Kuliah edisi ketiga),Jakarta : RS Jantung Harapan Kita, 1993.

 

  1. Tucker, Susan Martin,  Standar Perawatan Pasien Volume I,  Jakarta, EGC, 1998

 

  1. Underwood, J C E, Pathologi Volume 1 , Jakarta, EGC, 1999

 

Acut Miocard Infark

AKUT MIOCARD INFARK

 

  1. A.     PENGERTIAN

Infark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang.

(Brunner & Sudarth, 2002)

Infark miocard akut adalah nekrosis miocard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu. (Suyono, 1999)

  1. B.      ETIOLOGI (kasuari, 2002)
    1. faktor penyebab :
      1. Suplai oksigen ke miocard berkurang yang disebabkan oleh 3 faktor :

–          Faktor pembuluh darah :

  • Aterosklerosis.
  • Spasme
  • Arteritis

–          Faktor sirkulasi :

  • Hipotensi
  • Stenosos aurta
  • insufisiensi

–          Faktor darah :

  • Anemia
  • Hipoksemia
  • polisitemia
  1. Curah jantung yang meningkat :

–         Aktifitas berlebihan

–         Emosi

–         Makan terlalu banyak

–         hypertiroidisme

  1. Kebutuhan oksigen miocard meningkat pada :

–         Kerusakan miocard

–         Hypertropimiocard

–         Hypertensi diastolic

  1. Faktor predisposisi :
    1. faktor resiko biologis yang tidak dapat diubah :

–         usia lebih dari 40 tahun

–         jenis kelamin : insiden pada pria tinggi, sedangkan pada wanita meningkat setelah menopause

–         hereditas

–         Ras : lebih tinggi insiden pada kulit hitam.

  1. Faktor resiko yang dapat diubah :

–         Mayor :

  • hiperlipidemia
  • hipertensi
  • Merokok
  • Diabetes
  • Obesitas
  • Diet tinggi lemak jenuh, kalori

–         Minor:

  • Inaktifitas fisik
  • Pola kepribadian tipe A (emosional, agresif, ambisius, kompetitif).
  • Stress psikologis berlebihan.

C.     TANDA DAN GEJALA

Tanda dan gejala infark miokard  ( TRIAS ) adalah :

1. Nyeri :

  1. Nyeri dada yang terjadi secara mendadak dan terus-menerus tidak mereda, biasanya diatas region sternal bawah dan abdomen bagian atas, ini merupakan gejala utama.
  2. Keparahan nyeri dapat meningkat secaara menetap sampai nyeri tidak tertahankan lagi.
  3. Nyeri tersebut sangat sakit, seperti tertusuk-tusuk yang dapat menjalar ke bahu dan terus ke bawah menuju lengan (biasanya lengan kiri).
  4. Nyeri mulai secara spontan (tidak terjadi setelah kegiatan atau gangguan emosional), menetap selama beberapa jam atau hari, dan tidak hilang dengan bantuan istirahat atau nitrogliserin (NTG).
  5. Nyeri dapat menjalar ke arah rahang dan  leher.
  6. Nyeri sering disertai dengan sesak nafas, pucat, dingin, diaforesis berat, pening atau kepala terasa melayang dan mual muntah.
  7. Pasien dengan diabetes melitus tidak akan mengalami nyeri yang hebat karena neuropati yang menyertai diabetes dapat mengganggu neuroreseptor (mengumpulkan pengalaman nyeri).
  1. Laborat

Pemeriksaan Enzim jantung :

  1. CPK-MB/CPK

Isoenzim yang ditemukan  pada otot jantung  meningkat antara  4-6 jam, memuncak dalam 12-24 jam,  kembali normal dalam 36-48 jam.

  1. LDH/HBDH

Meningkat dalam  12-24 jam dam memakan  waktu lama untuk kembali normal

  1. AST/SGOT

Meningkat ( kurang nyata/khusus ) terjadi dalam 6-12 jam, memuncak dalam 24 jam, kembali normal dalam 3 atau 4  hari

  1. EKG

Perubahan EKG yang terjadi pada fase awal  adanya  gelombang T tinggi dan simetris. Setelah  ini terdapat elevasi segmen ST.Perubahan yang terjadi kemudian  ialah adanya  gelombang Q/QS yang menandakan adanya nekrosis.

Skor nyeri menurut White :

0        =    tidak mengalami nyeri

1      =    nyeri pada satu sisi tanpa menggangu aktifitas

2     =    nyeri lebih pada satu tempat dan mengakibatkan terganggunya aktifitas, mislnya kesulitan bangun dari tempat tidur, sulit menekuk kepala dan lainnya.


D.     PATHWAYS

  1. E.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
    1. EKG

Untuk mengetahui fungsi jantung : T. Inverted, ST depresi, Q. patologis

  1. Enzim Jantung.

CPKMB, LDH, AST

  1. Elektrolit.

Ketidakseimbangan dapat mempengaruhi konduksi dan kontraktilitas, missal hipokalemi, hiperkalemi

  1. Sel darah putih

Leukosit ( 10.000 – 20.000 ) biasanya tampak pada hari ke-2 setelah IMA berhubungan dengan proses inflamasi

  1. Kecepatan sedimentasi

Meningkat pada ke-2 dan ke-3 setelah AMI , menunjukkan inflamasi.

  1. Kimia

Mungkin normal, tergantung abnormalitas fungsi atau perfusi organ akut atau kronis

  1. GDA

Dapat menunjukkan hypoksia atau proses penyakit paru akut atau kronis.

  1. Kolesterol atau Trigliserida serum

Meningkat, menunjukkan arteriosclerosis sebagai penyebab AMI.

  1. Foto dada

Mungkin normal atau menunjukkan pembesaran jantung diduga GJK atau  aneurisma ventrikuler.

  1. Ekokardiogram

Dilakukan untuk menentukan dimensi serambi, gerakan katup atau dinding ventrikuler dan konfigurasi atau fungsi katup.

  1. Pemeriksaan pencitraan nuklir
    1. Talium : mengevaluasi aliran darah miocardia dan status sel miocardia missal lokasi atau luasnya IMA
    2. Technetium : terkumpul dalam sel iskemi di sekitar area nekrotik
    3. Pencitraan darah jantung (MUGA)

Mengevaluasi penampilan ventrikel khusus dan umum, gerakan dinding regional dan fraksi ejeksi (aliran darah)

  1. Angiografi koroner

Menggambarkan penyempitan atau sumbatan arteri koroner. Biasanya dilakukan sehubungan dengan pengukuran tekanan serambi dan mengkaji fungsi ventrikel kiri (fraksi ejeksi). Prosedur tidak selalu dilakukan pad fase AMI kecuali mendekati bedah jantung angioplasty atau emergensi.

  1. Digital subtraksion angiografi (PSA)

Teknik yang digunakan untuk menggambarkan

  1. Nuklear Magnetic Resonance (NMR)

Memungkinkan visualisasi aliran darah, serambi jantung atau katup ventrikel, lesivaskuler, pembentukan plak, area nekrosis atau infark dan bekuan darah.

  1. Tes stress olah raga

Menentukan respon kardiovaskuler terhadap aktifitas atau sering dilakukan sehubungan dengan pencitraan talium pada fase penyembuhan.

  1. F.      PENATALAKSANAAN
    1. Rawat ICCU, puasa 8 jam
    2. Tirah baring, posisi semi fowler.
    3. Monitor EKG
    4. Infus D5% 10 – 12 tetes/ menit
    5. Oksigen  2 – 4 lt/menit
    6. Analgesik : morphin 5 mg atau petidin 25 – 50 mg
    7. Obat sedatif : diazepam 2 – 5 mg
    8. Bowel care  : laksadin
    9. Antikoagulan : heparin tiap 4 – 6 jam /infus
    10. Diet rendah kalori dan mudah dicerna
    11. Psikoterapi untuk mengurangi cemas
  1. G.     PENGKAJIAN PRIMER
    1. Airways

–         Sumbatan atau penumpukan secret

–         Wheezing atau krekles

  1. Breathing

–         Sesak dengan aktifitas ringan atau istirahat

–         RR lebih dari 24 kali/menit, irama ireguler  dangkal

–         Ronchi, krekles

–         Ekspansi dada tidak penuh

–         Penggunaan otot bantu nafas

  1. Circulation

–         Nadi lemah , tidak teratur

–         Takikardi

–         TD meningkat / menurun

–         Edema

–         Gelisah

–         Akral dingin

–         Kulit pucat, sianosis

–         Output urine menurun

H.     PENGKAJIAN SEKUNDER.

  1. Aktifitas

Gejala :

–         Kelemahan

–         Kelelahan

–         Tidak dapat tidur

–         Pola hidup menetap

–         Jadwal olah raga tidak teratur

Tanda :

–         Takikardi

–         Dispnea pada istirahat atau aaktifitas

  1. Sirkulasi

Gejala :   riwayat IMA sebelumnya, penyakit arteri koroner, masalah tekanan darah, diabetes mellitus.

Tanda :

–         Tekanan darah

Dapat normal / naik / turun

Perubahan postural dicatat dari tidur sampai duduk atau berdiri

–         Nadi

Dapat normal , penuh atau tidak kuat atau lemah / kuat kualitasnya dengan pengisian kapiler lambat, tidak teratus (disritmia)

–         Bunyi jantung

Bunyi jantung ekstra : S3 atau S4 mungkin menunjukkan gagal jantung atau penurunan kontraktilits atau komplain ventrikel

–         Murmur

Bila ada menunjukkan gagal katup atau disfungsi otot jantung

–         Friksi ; dicurigai Perikarditis

–         Irama jantung dapat teratur atau tidak teratur

–         Edema

Distensi vena juguler, edema dependent , perifer, edema umum,krekles mungkin ada dengan gagal jantung atau ventrikel

–         Warna

Pucat atau sianosis, kuku datar , pada membran mukossa atau bibir

  1. Integritas ego

Gejala :   menyangkal gejala penting atau adanya kondisi takut mati, perasaan ajal sudah dekat, marah pada penyakit atau perawatan, khawatir tentang keuangan , kerja , keluarga

Tanda :   menoleh, menyangkal, cemas, kurang kontak mata, gelisah, marah, perilaku menyerang, focus pada diri sendiri, koma nyeri

  1. Eliminasi

Tanda :   normal, bunyi usus menurun.

  1. Makanan atau cairan

Gejala :   mual, anoreksia, bersendawa, nyeri ulu hati atau terbakar

Tanda :   penurunan turgor kulit, kulit kering, berkeringat, muntah, perubahan berat badan

  1. Hygiene

Gejala atau tanda : lesulitan melakukan tugas perawatan

  1. Neurosensori

Gejala : pusing, berdenyut selama tidur atau saat bangun (duduk atau istrahat )

Tanda : perubahan mental, kelemahan

  1. Nyeri atau ketidaknyamanan

Gejala :

–         Nyeri dada yang timbulnya mendadak (dapat atau tidak berhubungan dengan aktifitas ), tidak hilang dengan istirahat atau nitrogliserin (meskipun kebanyakan nyeri dalam dan viseral)

–          Lokasi    :

Tipikal pada dada anterior, substernal , prekordial, dapat menyebar ke tangan, ranhang, wajah. Tidak tertentu lokasinya seperti epigastrium, siku, rahang, abdomen, punggung, leher.

–          Kualitas     :

“Crushing  ”, menyempit, berat, menetap, tertekan, seperti dapat dilihat .

–          Intensitas :

Biasanya 10(pada skala 1 -10), mungkin pengalaman nyeri paling buruk yang pernah dialami.

–          Catatan   : nyeri mungkin tidak ada pada pasien pasca operasi, diabetes mellitus , hipertensi, lansia

  1. Pernafasan:

Gejala :

–         dispnea tanpa atau dengan kerja

–         dispnea nocturnal

–         batuk dengan atau tanpa produksi sputum

–         riwayat merokok, penyakit pernafasan kronis.

Tanda :

–         peningkatan frekuensi pernafasan

–         nafas sesak / kuat

–         pucat, sianosis

–         bunyi nafas ( bersih, krekles, mengi ), sputum

  1. Interkasi social

Gejala :

–         Stress

–         Kesulitan koping dengan stressor yang ada missal : penyakit, perawatan di RS

Tanda :

–         Kesulitan istirahat dengan tenang

–         Respon terlalu emosi ( marah terus-menerus, takut )

–         Menarik diri

I.        DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI

  1. Nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri ditandai dengan :
  • Ø nyeri dada dengan / tanpa penyebaran
  • Ø wajah meringis
  • Ø gelisah
  • Ø delirium
  • Ø perubahan nadi, tekanan darah.

Tujuan :

Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan selama di RS

Kriteria  Hasil:

  • Ø Nyeri dada berkurang misalnya dari skala 3 ke 2, atau dari 2 ke 1
  • Ø ekpresi wajah  rileks / tenang, tak tegang
  • Ø tidak gelisah
  • Ø nadi 60-100 x / menit,
  • Ø TD 120/ 80 mmHg

Intervensi :

  • Ø Observasi karakteristik, lokasi, waktu, dan perjalanan  rasa nyeri dada  tersebut.
  • Ø Anjurkan pada klien  menghentikan aktifitas selama ada serangan dan istirahat.
  • Ø Bantu klien  melakukan tehnik relaksasi, mis nafas dalam, perilaku distraksi, visualisasi, atau bimbingan imajinasi.
  • Ø Pertahankan Olsigenasi  dengan bikanul contohnya ( 2-4 L/ menit )
  • Ø Monitor tanda-tanda vital ( Nadi & tekanan darah ) tiap dua jam.
  • Ø Kolaborasi  dengan tim kesehatan  dalam pemberian analgetik.
  1. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan factor-faktor listrik, penurunan karakteristik miokard

Tujuan :

Curah jantung membaik / stabil setelah dilakukan tindakan keperawatan selama di RS

Kriteria Hasil :

  • Ø Tidak ada edema
  • Ø Tidak ada disritmia
  • Ø Haluaran urin normal
  • Ø TTV dalam batas normal

Intervensi :

  • Ø Pertahankan tirah baring selama fase akut
  • Ø Kaji dan laporkan adanya tanda – tanda penurunan COP, TD
  • Ø Monitor haluaran urin
  • Ø Kaji dan pantau TTV tiap jam
  • Ø Kaji dan pantau EKG tiap hari
  • Ø Berikan oksigen sesuai kebutuhan
  • Ø Auskultasi pernafasan dan jantung tiap jam sesuai indikasi
  • Ø Pertahankan cairan parenteral dan obat-obatan sesuai advis
  • Ø Berikan makanan sesuai diitnya
  • Ø Hindari valsava manuver, mengejan ( gunakan laxan )
  1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan , iskemik, kerusakan otot jantung, penyempitan / penyumbatan pembuluh darah arteri koronaria ditandai dengan :
  • Ø Daerah perifer dingin
  • Ø EKG elevasi segmen ST & Q patologis pada lead tertentu
  • Ø RR lebih dari 24 x/ menit
  • Ø Kapiler refill Lebih dari 3 detik
  • Ø Nyeri dada
  • Ø Gambaran foto torak terdpat pembesaran jantung & kongestif paru ( tidak selalu )
  • Ø HR lebih dari 100 x/menit, TD > 120/80AGD dengan : pa O2 < 80 mmHg, pa Co2 > 45 mmHg dan Saturasi < 80 mmHg
  • Ø Nadi lebih dari 100 x/ menit
  • Ø Terjadi peningkatan enzim jantung yaitu CK, AST, LDL/HDL

Tujuan :

Gangguan perfusi  jaringan berkurang / tidak meluas selama dilakukan tindakan perawatan di RS.

Kriteria Hasil:

  • Ø Daerah perifer hangat
  • Ø tak sianosis
  • Ø gambaran EKG tak menunjukan perluasan infark
  • Ø RR 16-24 x/ menit
  • Ø tak terdapat clubbing finger
  • Ø kapiler refill 3-5 detik
  • Ø nadi 60-100x / menit
  • Ø TD 120/80 mmHg

Intervensi :

  • Ø Monitor Frekuensi dan irama jantung
  • Ø Observasi perubahan  status mental
  • Ø Observasi warna  dan suhu kulit / membran mukosa
  • Ø Ukur haluaran urin dan catat berat jenisnya
  • Ø Kolaborasi : Berikan cairan IV l sesuai indikasi
  • Ø Pantau Pemeriksaan diagnostik / dan laboratorium mis EKG, elektrolit , GDA( Pa O2, Pa CO2 dan saturasi O2 ). Dan  Pemberian oksigen

 

  1. Resiko kelebihan volume cairan ekstravaskuler berhubungan dengan penurunan perfusi ginjal, peningkatan natrium / retensi air , peningkatan tekanan hidrostatik, penurunan protein plasma.

Tujuan :

Keseimbangan volume cairan dapat dipertahankan  selama dilakukan tindakan keperawatan selama di RS

Kriteria Hasil :

  • Ø tekanan darah dalam batas normal
  • Ø tak ada distensi  vena perifer/ vena dan edema  dependen
  • Ø paru bersih
  • Ø berat badan  ideal ( BB idealTB –100 ± 10 %)

Intervensi :

  • Ø Ukur masukan / haluaran, catat penurunan , pengeluaran, sifat konsentrasi, hitung keseimbangan cairan
  • Ø Observasi adanya oedema dependen
  • Ø Timbang BB tiap hari
  • Ø Pertahankan masukan  total caiaran 2000 ml/24 jam dalam toleransi kardiovaskuler
  • Ø Kolaborasi : pemberian diet rendah natrium, berikan  diuetik.
  1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan aliran darah ke alveoli atau kegagalan utama paru, perubahan membran  alveolar- kapiler ( atelektasis , kolaps jalan nafas/ alveolar  edema paru/efusi, sekresi berlebihan / perdarahan aktif ) ditandai dengan :
  • Ø Dispnea berat
  • Ø Gelisah
  • Ø Sianosis
  • Ø perubahan GDA
  • Ø hipoksemia

Tujuan :

Oksigenasi dengan GDA dalam rentang normal (pa O2 < 80 mmHg, pa Co2 > 45 mmHg dan Saturasi < 80 mmHg ) setelah dilakukan tindakan keperawtan selama di RS.

Kriteria hasil :

  • Ø Tidak sesak nafas
  • Ø tidak gelisah
  • Ø GDA dalam batas Normal ( pa O2 < 80 mmHg, pa Co2 > 45 mmHg dan Saturasi < 80 mmHg )

Intervensi :

  • Ø Catat frekuensi & kedalaman pernafasan, penggunaan otot Bantu pernafasan
  • Ø Auskultasi paru untuk  mengetahui penurunan / tidak adanya  bunyi nafas  dan adanya bunyi tambahan misal krakles, ronki dll.
  • Ø Lakukan tindakan untuk memperbaiki / mempertahankan jalan nafas misalnya , batuk,  penghisapan lendir dll.
  • Ø Tinggikan kepala / tempat tidur sesuai kebutuhan / toleransi pasien
  • Ø Kaji toleransi aktifitas misalnya  keluhan kelemahan/ kelelahan selama kerja atau tanda vital berubah.
  1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen miocard dan  kebutuhan, adanya iskemik/ nekrotik jaringan miocard ditandai dengan gangguan frekuensi jantung, tekanan darah dalam aktifitas, terjadinya disritmia, kelemahan umum

Tujuan :

Terjadi peningkatan toleransi  pada klien setelah dilaksanakan  tindakan keperawatan selama di RS

Kriteria  Hasil :

  • Ø klien berpartisipasi dalam aktifitas sesuai kemampuan klien
  • Ø frekuensi jantung  60-100 x/ menit
  • Ø TD 120-80 mmHg

Intervensi :

  • Ø Catat frekuensi  jantung, irama,  dan perubahan TD selama dan sesudah aktifitas
  • Ø Tingkatkan istirahat ( di tempat tidur )
  • Ø Batasi aktifitas pada dasar nyeri  dan berikan aktifitas sensori yang tidak berat.
  • Ø Jelaskan pola peningkatan  bertahap dari tingkat aktifitas, contoh bengun dari  kursi bila tidak ada  nyeri, ambulasi dan istirahat selam 1 jam  setelah mkan.
  • Ø Kaji ulang tanda  gangguan yang menunjukan tidak toleran  terhadap aktifitas atau memerlukan  pelaporan pada dokter.
  1. Cemas berhubungan dengan ancaman aktual terhadap integritas biologis

Tujuan :

cemas hilang / berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama di RS

Kriteria Hasil :

  • Ø Klien tampak rileks
  • Ø Klien dapat beristirahat
  • Ø TTV dalam batas normal

Intervensi :

  • Ø Kaji tanda dan respon verbal serta non verbal terhadap ansietas
  • Ø Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
  • Ø Ajarkan tehnik relaksasi
  • Ø Minimalkan rangsang yang membuat stress
  • Ø Diskusikan dan orientasikan klien dengan lingkungan dan peralatan
  • Ø Berikan sentuhan pada klien dan ajak kllien berbincang-bincang dengan suasana tenang
  • Ø Berikan support mental
  • Ø Kolaborasi pemberian sedatif sesuai indikasi
  1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang  informasi tentang fungsi jantung / implikasi  penyakit jantung  dan status kesehatan  yang akan datang , kebutuhan  perubahan pola hidup ditandai dengan pernyataan masalah, kesalahan konsep, pertanyaan, terjadinya kompliksi  yang dapat dicegah

Tujuan :

Pengetahuan klien tentang  kondisi  penyakitnya  menguat setelah diberi  pendidikan kesehatan selama di RS

Kriteria Hasil :

  • Ø Menyatakan pemahaman tentang penyakit jantung , rencana pengobatan,  tujuan pengobatan & efek samping  / reaksi merugikan
  • Ø Menyebutkan gangguan yang memerlukan perhatian cepat.

Intervensi :

  • Ø Berikan informasi dalam bentuk belajar yang berfariasi, contoh buku, program audio/ visual, Tanya jawab dll.
  • Ø Beri penjelasan factor resiko, diet ( Rendah lemak dan rendah garam ) dan aktifitas yang berlebihan,
  • Ø Peringatan untuk menghindari paktifitas manuver valsava
  • Ø Latih pasien sehubungan dengan aktifitas yang bertahap contoh : jalan, kerja,  rekreasi  aktifitas seksual.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Carolyn M. Hudak. Critical Care Nursing : A Holistic Approach. Edisi VII. Volume II. Alih Bahasa : Monica E. D Adiyanti. Jakarta : EGC ; 1997
  2. Susan Martin Tucker. Patient Care Standarts. Volume 2. Jakarta : EGC ; 1998
  3. Lynda Juall Carpenito. Handbook Of Nursing Diagnosis. Edisi 8. Jakarta : EGC ; 2001
  4. Long, B.C. Essential of medical – surgical nursing : A nursing process approach. Volume 2. Alih bahasa : Yayasan IAPK. Bandung: IAPK Padjajaran; 1996 (Buku asli diterbitkan tahun 1989)
  5. Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. Brunner and Suddarth’s textbook of medical – surgical nursing. 8th Edition. Alih bahasa : Waluyo, A.  Jakarta: EGC; 2000 (Buku asli diterbitkan tahun 1996)
  6. Corwin, E.J. Handbook of pathophysiology. Alih bahasa : Pendit, B.U. Jakarta: EGC; 2001 (Buku asli diterbitkan tahun 1996)
  7. Price, S.A. & Wilson, L.M. Pathophysiology: Clinical concept of disease processes. 4th Edition. Alih bahasa : Anugerah, P. Jakarta: EGC; 1994 (Buku asli diterbitkan tahun 1992)
  8. Doengoes, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C. Nursing care plans: Guidelines for planning and documenting patients care. Alih bahasa: Kariasa, I.M. Jakarta: EGC; 1999 (Buku asli diterbitkan tahun 1993)
  9. Suyono, S, et al. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2001
  10. Arif Mansjoer. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Jakarta : Media Aesculapius ; 2000
  11. Sandra M. Nettina , Pedoman Praktik Keperawatan, Jakarta, EGC, 2002
  12. 12.   Kasuari, Asuhan Keperawatan Sistem Pencernaan dan Kardiovaskuler Dengan Pendekatan Patofisiology, Magelang, Poltekes Semarang PSIK Magelang, 2002

prosedur tindakan (kateterisasi urine pada wanita)

KATETERISASI URINE PADA WANITA

 1.   Pengertian

Memasukkan selang karet atau plastik melalui uretra dan kedalam kandung kemih

  1. 2.   Tujuan
    1. Menghilangkan distensi kandung kemih
    2. Mendapatkan spesimen urine
    3. Mengkaji jumlah residu urine, jika kandung kemih tidak mampu sepenuhnya dikosongkan
  2. 3.   Persiapan
    1. a.   Perasiapan pasien

1)   Mengucapkan salam terapeutik

2)   Memperkenalkan diri

3)   Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan  tindakan yang akan dilaksanakan.

4)   Penjelasan yang disampaikan dimengerti klien/keluarganya

5)   Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam.

6)   Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klarifikasi

7)   Privacy klien selama komunikasi dihargai.

8)   Memperlihatkan kesabaran , penuh empati, sopan, dan perhatian serta respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan

9)   Membuat kontrak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan)

  1. b.   Persiapan alat

1)       Bak instrumen berisi :

a) Poly kateter sesuai ukuran 1 buah

b)Urine bag steril 1 buah

c) Pinset anatomi 2 buah

d) Duk steril

e) Kassa steril yang diberi jelly

2)       Sarung tangan steril

3)       Kapas sublimat  dalam kom tertutup

4)       Perlak dan pengalasnya 1 buah

5)       sampiran

6)       Cairan aquades atau  Nacl

7)       Plester

8)       Gunting verband

9)       Bengkok 1 buah

10)     Korentang pada tempatnya

  1. 4.   Prosedur
    1. Pasien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan, kemudian alat-alat didekatkan ke pasien
    2. Pasang sampiran
    3. Cuci tangan
    4. Pasang pengalas/perlak dibawah bokong klien
    5. Pakaian bagian bawah klien dikeataskan/dilepas, dengan posisi klien lithotomi (kaki ditekuk dan Kaki sedikit dibuka). Bengkok diletakkan didekat bokong klien
    6. Buka bak instrumen, pakai sarung tangan steril, pasang duk steril, lalu bersihkan alat    genitalia dengan kapas sublimat dengan menggunakan pinset.
    7. Bersihkan genitalia dengan cara : dengan tangan  nondominan perawat membuka vulva kemudian tangan kanan memegang  pinset dan mengambil satu buah kapas sublimat. Selanjutnya bersihkan labia mayora dari atas kebawah dimulai dari sebelah kiri lalu kanan, kapas dibuang dalam nierbekken, kemudian bersihkan labia minora, klitoris, dan anus. Letakkan pinset pada nierbekken
    8. Ambil kateter kemudian olesi dengan jelly. Masukkan kateter kedalam uretra kira-kira 10 cm secara perlahan-lahan dengan menggunakan pinset sampai urine keluar. Masukkan Cairan Nacl/aquades 20-30 cc atau sesuai ukuran yang tertulis. Tarik sedikit kateter. Apabila pada saat ditarik kateter terasa tertahan berarti kateter sudah masuk pada kandung kemih
    9. Lepaskan duk, sambungkan kateter dengan urine bag. Lalu ikat disisi tempat tidur
    10. Fiksasi kateter pada bagian sisi dalam paha klien
    11. Pasien dirapihkan kembali
    12. Alat dirapihkan kembali
    13. Mencuci tangan
    14. Melaksanakan dokumentasi :

1)    Catat tindakan yang dilakukan dan hasil serta respon klien pada lembar catatan klien

2)    Catat tgl dan jam melakukan tindakan dan nama perawat yang melakukan dan tanda tangan/paraf pada lembar catatan klien

prosedur tindakan (kateterisasi urine pada pria)

KATETERISASI URINE PADA PRIA

 

  1. 1.   Pengertian

Memasukkan selang karet atau plastik melalui uretra dan kedalam kandung kemih

  1. 2.   Tujuan

a. Menghilangkan distensi kandung kemih

b. Mendapatkan spesimen urine

c. Mengkaji jumlah residu urine, jika kandung kemih tidak mampu sepenuhnya dikosongkan

  1. 3.   Persiapan
    1. a.   Persiapan pasien

1)      Mengucapkan salam terapeutik

2)      Memperkenalkan diri

3)      Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan  tindakan yang akan dilaksanakan.

4)      Penjelasan yang disampaikan dimengerti klien/keluarganya

5)      Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam.

6)      Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klarifikasi

7)      Privacy klien selama komunikasi dihargai.

8)      Memperlihatkan kesabaran , penuh empati, sopan, dan perhatian serta respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan

9)      Membuat kontrak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan)

  1. b.   Persiapan alat

1)   Bak instrumen berisi :

a) Poly kateter sesuai ukuran 1 buah

b)  Urine bag steril 1 buah

c)  Pinset anatomi 2 buah

d)  Duk steril

e)  Kassa steril yang diberi jelly

2)    Sarung tangan steril

3)    Kapas sublimat  dalam kom tertutup

4)    Perlak dan pengalasnya 1 buah

5)    Sampiran

6)    Cairan aquades atau  Nacl

7)    Plester

8)    Gunting verband

9)    Bengkok 1 buah

10) Korentang pada tempatnya

  1. 4.   Prosedur
    1. Pasien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan, kemudian alat-alat didekatkan ke pasien
    2. Pasang sampiran
    3. Cuci tangan
    4. Pasang pengalas/perlak dibawah bokong klien
    5. Pakaian bagian bawah klien dikeataskan/dilepas, dengan posisi klien terlentang. Kaki sedikit dibuka. Bengkok diletakkan didekat bokong klien
    6. Buka bak instrumen, pakai sarung tangan steril, pasang duk steril, lalu bersihkan alat    genitalia dengan kapas sublimat dengan menggunakan pinset.
    7. Bersihkan genitalia dengan cara : Penis dipegang dengan tangan  non dominan penis dibersihkan dengan menggunakan kapas sublimat oleh tangan dominan dengan gerakan memutar dari meatus keluar. Tindakan bisa dilakukan beberapa kali hingga bersih. Letakkan pinset dalam bengkok
    8. Ambil kateter kemudian olesi dengan jelly. Masukkan kateter kedalam uretra kira-kira 10 cm secara perlahan-lahan dengan menggunakan pinset sampai urine keluar. Masukkan Cairan Nacl/aquades 20-30 cc atau sesuai ukuran yang tertulis. Tarik sedikit kateter. Apabila pada saat ditarik kateter terasa tertahan berarti kateter sudah masuk pada kandung kemih
    9. Lepaskan duk, sambungkan kateter dengan urine bag. Lalu ikat disisi tempat tidur
    10. Fiksasi kateter
    11. Lepaskan sarung
    12. Pasien dirapihkan kembali
    13. Alat dirapihkan kembali
    14. Mencuci tangan
    15. Melaksanakan dokumentasi :

1)    Catat tindakan yang dilakukan dan hasil serta respon klien pada lembar catatan klien

2)    Catat tgl dan jam melakukan tindakan dan nama perawat yang melakukan dan tanda tangan/paraf pada lembar catatan klien

prosedur tindakan (huknah tinggi)

HUKNAH TINGGI

 

  1. 1.   Pengertian

Memasukkan cairan melalui anus sampai ke kolon asenden

  1. 2.   Tujuan
    1. Membantu mengeluarkan fesces akibat konstipasi
    2. Tindakan pengobatan/pemeriksaan diagnostik
  2. 3.   Persiapan
    1.         a.    Persiapan pasien

1)     Mengucapkan salam terapeutik

2)     Memperkenalkan diri

3)     Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan  tindakan yang akan dilaksanakan.

4)     Penjelasan yang disampaikan dimengerti klien/keluarganya

5)     Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam.

6)     Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klarifikasi

7)     Privacy klien selama komunikasi dihargai.

8)     Memperlihatkan kesabaran , penuh empati, sopan, dan perhatian serta respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan

9)     Membuat kontrak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan)

  1.         b.    Persiapan alat

1)      Sarung tangan bersih

2)      Selimut mandi atau kain penutup

3)      Perlak dan pengalas

4)      Irigator lengkap dengan canule recti, selang dan klemnya

5)      Cairan sesuai kebutuhan

6)      Bengkok

7)      Jelly/pelumas larut dalam air

8)      Tiang penggantung irigator

9)      Jika perlu sediakan pispot,air pembersih dan kapas cebok/tissue toilet

  1. 4.   Prosedur
    1. Pintu ditutup/pasang sampiran
    2. Mencuci tangan
    3. Perawat berdiri disebelah kanan klien dan pasang sarung tangan
    4. Pasang perlak dan pengalas
    5. Pasang selimut mandi sambil pakaian bagian bawah klien ditanggalkan
    6. Atur posisi klien sim kiri
    7. Sambung selang karet dan klem (tertutup) dengan irigator
    8. Isi irigator dengan cairan yang sudah disediakan
    9. Gantung irigator dengan ketinggian 40-50 cm dari bokong klien
    10. Keluarkan udara dari selang dengan mengalirkan cairan ke dalam bengkok
    11. Pasang kanule rekti dan olesi dengan jelly
    12. Masukkan kanule ke anus, klem dibuka, masukkan cairan secara perlahan

m. Jika cairan habis, klem selang dan cabut kanul dan masukkan kedalam bengkok

  1. Atur kembali posisi klien dan minta klien menahan sebentar
  2. Bantu klien ke WC jika mampu, jika tidak tetap dalam posisi miring lalu pasang pispot dibokong klien.
  3. Klien dirapihkan
  4. alat dirapihkan kembali
  5. Mencuci tangan
  6. Melaksanakan dokumentasi :

1)       Catat tindakan yang dilakukan dan hasil serta respon klien pada lembar catatan klien

2)           Catat tgl dan jam melakukan tindakan dan nama perawat yang melakukan dan tanda tangan/paraf pada lembar catatan klien

prosedur tindakan (huknah rendah)

HUKNAH RENDAH

 

  1. 1.   Pengertian
  2. Memasukkan cairanmelalui anus sampai ke kolon desenden
  1. 2.   Tujuan
    1. Merangsang peristaltik usus
    2. Mengosongkan usus sebagai persiapan tindakan operasi
    3. Tindakan pengobatan
  2. 3.   Persiapan
    1. a.   Persiapan pasien

1)      Mengucapkan salam terapeutik

2)      Memperkenalkan diri

3)      Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan  tindakan yang akan dilaksanakan.

4)      Penjelasan yang disampaikan dimengerti klien/keluarganya

5)      Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam.

6)      Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klarifikasi

7)      Privacy klien selama komunikasi dihargai.

8)      Memperlihatkan kesabaran , penuh empati, sopan, dan perhatian serta respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan

9)      Membuat kontrak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan)

  1. b.   Persiapan alat

1)    Sarung tangan bersih

2)    Selimut mandi atau kain penutup

3)    Perlak dan pengalas

4)    Irigator lengkap dengan canule recti, selang dan klemnya

5)    Cairan sesuai kebutuhan

6)    Bengkok

7)    Jelly/pelumas larut dalam air

8)    Tiang penggantung irigator

9)    Jika perlu sediakan pispot,air pembersih dan kapas cebok/tissue toilet

  1. 4.   Prosedur
    1. Pintu ditutup/pasang sampiran
    2. Mencuci tangan
    3. Perawat berdiri disebelah kanan klien dan pasang sarung tangan
    4. Pasang perlak dan pengalas
    5. Pasang selimut mandi sambil pakaian bagian bawah klien ditanggalkan
    6. Atur posisi klien sim kiri
    7. Sambung selang karet dan klem (tertutup) dengan irigator
    8. Isi irigator dengan cairan yang sudah disediakan
    9. Gantung irigator dengan ketinggian 40-50 cm dari bokong klien
    10. Keluarkan udara dari selang dengan mengalirkan cairan ke dalam bengkok
    11. Pasang kanule rekti dan olesi dengan jelly
    12. Masukkan kanule ke anus, klem dibuka, masukkan cairan secara perlahan
    13. Jika cairan habis, klem selang dan cabut kanul dan masukkan kedalam bengkok
    14. Atur kembali posisi klien dan minta klien menahan sebentar
    15. Bantu klien ke WC jika mampu, jika tidak tetap dalam posisi miring lalu pasang pispot dibokong klien.
    16. Klien dirapihkan
    17. alat dirapikan kembali
    18. Mencuci tangan
    19. Melaksanakan dokumentasi :

1)      Catat tindakan yang dilakukan dan hasil serta respon klien pada lembar catatan klien

2)      Catat tgl dan jam melakukan tindakan dan nama perawat yang melakukan dan tanda tangan/paraf pada lembar catatan klien

prosedur tindakan keperawatan (dekubitus)

DEKUBITUS

 PENDAHULUAN

Kita kehilangan sekitar satu gram sel kulit setiap harinya karena gesekan kulit pada baju dan aktivitas higiene yang dilakukan setiap hari seperti mandi.

Dekubitus dapat terjadi pada setiap tahap umur, tetapi hal ini merupakan masalah  yang khusus pada lansia. Khsusnya pada klien dengan imobilitas.

Seseorang yang tidak im-mobil yang tidak berbaring ditempat tidur sampai berminggu-minggu tanpa terjadi dekubitus karena dapat berganti posisi beberapa kali dalam sejam. Penggantian posisi ini, biarpun hanya bergeser, sudah cukup untuk mengganti bagian tubuh yang kontak dengan alas tempat tidur.

Sedangkan im-mobilitas hampir menyebabkan dekubitus bila berlangsung lama. Terjadinya ulkus disebabkan ganggual aliran darah setempat, dan juga keadaan umum dari penderita.

Dekubitus adalah kerusakan/kematian kulit sampai jaringan dibawah kulit, bahkan menembus otot sampai mengenai tulang akibat adanya penekanan pada suatu area secara terus menerus sehingga mengakibatkan gangguan sirkulasi darah setempat.

Walaupun semua bagian tubuh mengalami dekubitus, bagian bawah dari tubuhlah yang terutama beresiko tinggi dan membutuhkan perhatian khsus.

Area yang biasa terjadi dekubitus adalah tempat diatas tonjolan tulang dan tidak dilindungi oleh cukup dengan lemak sub kutan, misalnya daerah sakrum, daerah trokanter mayor dan spina ischiadica superior anterior, daerah tumit dan siku.

Dekubitus merupakan suatu hal yang serius, dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada penderita lanjut usia. Dinegara-negara maju, prosentase terjadinya dekubitus mencapai sekitar 11% dan terjadi dalam dua minggu pertama dalam perawatan.

Usia lanjut mempunyai potensi besar untuk terjadi dekubitus karena perubahan kulit berkaitan dengan bertambahnya usia antara lain:

  • Berkurangnya jaringan lemak subkutan
  • Berkurangnya jaringan kolagen dan elastin
  • Menurunnya efesiensi kolateral kapiler pada kulit sehingga kulit menjadi lebih tipis dan rapuh.

TIPE ULKUS DEKUBITUS

Berdasarkan waktu yang diperlukan untuk penyembuhan dari suatu ulkus dekubitus dan perbedaan temperatur dari ulkus dengan kulit sekitarnya, dekubitus dapat dibagi menjadi tiga;

  1. Tipe normal

Mempunyai beda temperatur sampai dibawah lebih kurang 2,5oC dibandingkan kulit sekitarnya dan akan sembuh dalam perawatan sekitar 6 minggu. Ulkus ini terjadi karena iskemia jaringan setempat akibat tekanan, tetapi aliran darah dan pembuluh-pembuluh darah sebenarnya baik.

  1. Tipe arterioskelerosis

Mempunyai beda temperatur kurang dari 1oC antara daerah ulkus dengan kulit sekitarnya. Keadaan ini menunjukkan gangguan aliran darah akibat penyakit pada pembuluh darah (arterisklerotik) ikut perperan untuk terjadinya dekubitus disamping faktor tekanan. Dengan perawatan, ulkus ini diharapkan sembuh dalam 16 minggu.

  1. Tipe terminal

Terjadi pada penderita yang akan meninggal dunia dan tidak akan sembuh.

PATOFISIOLOGI TERJADINYA DEKUBITUS

Tekanan daerah pada kapiler berkisar antara 16 mmHg-33 mmHg. Kulit akan tetap utuh karena sirkulasi darah terjaga, bila tekanan padanya masih berkisar pada batas-batas tersebut. Tetapi sebagai contoh bila seorang penderita immobil/terpancang pada tempat tidurnya secara pasif dan berbaring diatas kasur busa maka tekanan daerah sakrum akan mencapai 60-70 mmHg dan daerah tumit mencapai 30-45 mmHg.

Tekanan akan menimbulkan daerah iskemik dan bila berlanjut terjadi nokrosis jaringan kulit. Percobaan pada binatang didapatkan bahwa sumbatan total pada kapiler masih bersifat reversibel bila kurang dari 2 jam. Seorang yang terpaksa berbaring berminggu-minggu tidak akan mengalami dakubitus selama dapat mengganti posisi beberapa kali perjammnya.

Selain faktor tekanan, ada beberapa faktor mekanik tambahan yang dapat memudahkan terjadinya dekubitus;

  • Faktor teregangnya kulit misalnya gerakan meluncur ke bawah pada penderita dengan posisi dengan setengah berbaring
  • Faktor terlipatnya kulit akiab gesekan badan yang sangat kurus dengan alas tempat tidur, sehingga seakan-akan kulit “tertinggal” dari area tubuh lainnya.

Faktor teragannya kulit akibat daya luncur antara tubuh dengan alas tempatnya berbaring akan menyebabkan terjadinya iskemia jaringan setempat.

Keadaan ini terjadi bila penderita immobil, tidak dibaringkan terlentang mendatar, tetapi pada posisi setengah duduk. Ada kecenderungan dari tubuh untuk meluncur kebawah, apalagi keadaannya basah. Sering kali hal ini dicegah dengan memberikan penhalang, misalnya bantal kecil/balok kayu pada kedua telapak kaki. Upaya ini hanya akian mencegah pergerakan dari kulit, yang sekarang terfiksasi dari alas, tetapi rangka tulang tetap cederung maju kedepan. Akibatnya terjadi garis-garis penekanan/peregangan pada jaringan subkutan yang sekan-akan tergunting pada tempat-tempat tertentu, dan akan terjadi penutupan arteriole dan arteri-arteri kecil akibat terlalu teregang bahkan sampai robek. Tenaga menggunting ini disebut Shering Forces.

Sebagai tambahan dari shering forces ini, pergerakan dari tubuh diatas alas tempatnya berbaring, dengan fiksasi kulit pada permukaan alas akan menyebabkan terjadinya lipatan-lipatan kulit (skin folding). Terutama terjadi pada penderita yang kurus dengan kulit yang kendur. Lipatan-lipatan kulit yang terjadi ini dapat menarik/mengacaukan (distorsi) dan menutup pembuluh-pembuluh darah.

Sebagai tambahan dari efek iskemia langsung dari faktor-faktor diatas, masih harus diperhatikan terjadinya kerusakan edotil, penumpukan trombosit dan edema. Semua inidapat menyebabkan nekrosis jarigan akibat lebih terganggunya aliran darah kapiler. Kerusakan endotil juga menyebabkn pembuluh darah mudah rusak bila terkena trauma.

Faktor tubuh sendiri (faktor intrinsik) juga berperan untuk terjadinya dekubitus antara lain;

FAKTOR INTRINSIK

  • Selama penuaan, regenerasi sel pada kulit menjadi lebih  lambat sehingga kulit akan tipis (tortora & anagnostakos, 1990)
  • Kandungan kolagen pada kulit yang berubah menyebabkan elastisitas kulit berkurang sehingga rentan mengalami deformasi dan kerusakan.
  • Kemampuan sistem kardiovaskuler yang menurun dan sistem  arteriovenosus yang kurang kompeten menyebabkan penurunan perfusi kulit secara progresif.
  • Sejumlah penyakit yang menimbulkan seperti DM yang menunjukkan insufisiensi kardiovaskuler perifer dan penurunan fungsi kardiovaskuler seperti pada sistem pernapasan menyebabkan tingkat oksigenisasi darah pada kulit menurun.
  • Status gizi, underweight atau kebalikannya overweight
  • Anemia
  • Hipoalbuminemia yang mempermudah terjadinya dekubitus dan memperjelek penyembuhan dekubitus, sebaliknya bila ada dekubitus akam menyebabkan kadar albumin darah menurun
  • Penyakit-penyakit neurologik, penyakit-penyakit yang merusak pembuluh darah, juga mempermudah dan meperjelek dekubitus
  • Keadaan hidrasi/cairan tubuh perlu dinilai dengan cermat.

FAKTOR EKSTRINSIK

  • Kebersihan tempat tidur,
  • alat-alat tenun yang kusut dan kotor, atau peralatan medik yang menyebabkan penderita terfiksasi pada suatu sikap tertentu juga memudahkan terjadinya dekubitus.
  • Duduk yang buruk
  • Posisi yang tidak tepat
  • Perubahan posisi yang kurang

PENAMPILAN KLINIS DARI DEKUBITUS

Karakteristik penampilan klinis dari dekubitus dapat dibagi sebagai berikut;

Derajat I Reaksi peradangan masih terbatas pada epidermis, tampak sebagai daerah kemerahan/eritema indurasi atau lecet.
Derajat II Reaksi yang lebih dalam lagi sampai mencapai seluruh dermis hingga lapisan lemah subkutan, tampak sebagai ulkus yang dangkal, degan tepi yang jelas dan perubahan warna pigmen kulit.
Derajat III Ulkus menjadi lebih dalam, meliputi jaringan lemak subkutan dan menggaung, berbatasan dengan fascia dari otot-otot. Sudah mulai didapat infeksi dengan jaringan nekrotik yang berbau.
Derajat IV Perluasan ulkus menembus otot, hingga tampak tulang di dasar ulkus yang dapat mengakibatkan infeksi pada tulang atau sendi.

Mengingat patofisiologi terjadinya dekubitus adalah penekanan pada daerah-daerah tonjolan tulang, harusla diingat bahwa kerusakan jaringan dibawah tempat yang mengalami dekubitus adalah lelih luas dari ulkusnya.

PENGELOLAAN DEKUBITUS

Pengelolaan dekubitus diawali dengan kewaspadaan untuk mencegah terjadinya dekubitus dengan mengenal penderita risiko tinggi terjadinya dekubitus, misalnya pada penderita yang immobil dan konfusio.

Usaha untuk meremalkan terjadinya dekubitus ini antara lain dengan memakai sistem skor Norton. Skor dibawah 14 menunjukkan adanya risiko tinggi untuk terjadinya dekubitus. Dengan evaluasi skor ini dapat dilihat perkembangan penderita

Tindakan berikutnya adalan menjaga kebersihan penderita khususnya kulit, dengan memandikan setiap hari. Sesudah keringkan dengan baik lalu digosok dengan lotion, terutama dibagian kulit yang ada pada tonjolan-tonjolan tulang. Sebaiknya diberikan massase untuk melancarkan sirkulasi darah, semua ekskreta/sekreta harus dibersihkan dengan hati-hati agari tidak menyebabkan  lecet pada kulit penderita.

Tindakan selanjutnya yang berguna baik untuk pencegahan maupun setelah terjadinya dekubitus adalah:

  1. Meningkatkan status kesehatan penderita;

umum; memperbaiki dan menjaga keadaan umum penderita, misalnya anemia diatasi, hipoalbuminemia dikoreksi, nutirisi dan hidarasi yang cukup, vitamin (vitamin C) dan mineral (Zn) ditambahkan.

khusus; coba mengatasi/mengoabati penyakit-penyakit yang ada pada penderita, misalnya DM.

  1. Mengurangi/memeratakan faktor tekanan yang mengganggu aliran darah;
    1. Alih posisi/alih baring/tidur selang seling, paling lama tiap dua jam. Keberatan pada cara ini adalah ketergantungan pada tenaga perawat yang kadang-kadang sudah sangat kurang, dan kadang-kadang mengganggu istirahat penderita  bahkan menyakitkan.
    2. Kasur khusus untuk lebih memambagi rata tekan yang terjadi pada tubuh penderita, misalnya; kasur dengan gelembung tekan udara yang naik turun, kasur air yang temperatur airnya dapat diatur. (keberatan alat canggih ini adalah harganya mahal, perawatannya sendir harus baik dan dapat ruasak)
    3. Regangan kulit dan lipatan kulit yang menyebabkan sirkulasi darah setempat terganggu, dapat dikurangi antara lain;
  • Menjaga posisi penderita, apakah ditidurkan rata pada tempat tidurnya, atau sudah memungkinakan untuk duduk dikursi.
  • Bantuan balok penyangga  kedua kaki, bantal-bantal kecil utuk menahan tubuh penderita, “kue donat” untuk tumit,
  • Diluar negeri sering digunakan kulit domba dengan bulu yang lembut dan tebal sebagai alas tubuh penderita.

Bagitu tampak kulit yang hiperemis pada tubuh penderita, khsusnya pada tempat-tempat yang sering terjadi dekubitus, semua usaha-usahan diatas dilakukan dengan lebih cermat untuk memperbaiki iskemia yang terjadi, sebab sekali terjadi kerusakan jaringa upaya penyembuhan akan lebih rumit.

Bila sudah terjadi dekubitus, tentukan stadium dan tindakan medik menyesuaikan apa yang dihadapi:

  1. Dekubitus derajat I

Dengan reaksi peradangan masih terbatas pada epidermis;

kulit yang kemerahan dibersihkan hati-hati dengan air hangat dan sabun, diberi lotion,

kemudian dimassase 2-3 kali/hari.

  1. Dekubitus derajat II

Dimana sudah terjadi ulkus yang dangkal;

Perawatan luka harus memperhatikan syarat-syarat aseptik dan antiseptik.

Daerah bersangkutan digesek dengan es dan dihembus dengan udara  hangat bergantian untuk meransang sirkulasi.

Dapat diberikan salep topikal, mungkin juga untuk meransang tumbuhnya jaringan muda/granulasi,

Penggantian balut dan salep ini jangan terlalu sering  karena malahan dapat merusakkan pertumbuhan jaringan yang diharapkan.

  1. Dekubitus derajat III

Dengan ulkus yang sudah dalam, menggaung sampai pada bungkus otot dan sering sudah ada infeksi;

Usahakan luka selalu bersih dan eksudat disusahakan dapat mengalir keluar.

Balut jangan terlalu tebal dan sebaliknya transparan sehingga permeabel untuk masukknya udara/oksigen dan penguapan.

Kelembaban luka dijaga tetap basah, karena akan mempermudah regenarasi sel-sel kulit.

Jika luka kotor dapat dicuci dengan larutan NaCl fisiologis.

Antibiotik sistemik mungkin diperlukan.

1.Dekubitus derajat IV

Dengan perluasan ulkus sampai pada dasar tulang dan sering pula diserta jaringan nekrotik;

Semua langkah-langkah diatas tetap dikerjakan dan jaringan nekrotik yang adal harus dibersihkan , sebaba akan menghalangi pertumbuhgan jaringan/epitelisasi.

Beberapa preparat enzim coba diberikan untuk usaha ini, dengan tujuan mengurangi perdarahan, dibanding tindakan bedah yang juga merupakan alternatif lain. Setelah jaringan nekrotik dibuang danluka bersih, penyembuhan luka  secara alami dapat diharapkan.

Beberapa usaha mempercepat adalah antara lain dengan memberikan oksigenisasi pada daerah luka,

Tindakan dengan ultrasono untuk membuka sumbatan-sumbatan pembuluh darah dan sampai pada transplantasi kulit setempat.

Angka mortalitas dekubitus derajat IV ini dapat mencapai 40%.

SKOR NORTON UNTUK MENGUKUR RISIKO DEKUBITUS.

Risiko dekubitus jika skor total ≤ 14

konsep dasar keperawatan

PENGANTAR PROFESI KEPERAWATAN

 PENGERTIAN PROFESI

  1. SCHEIN EH (1962) : SEKUMPULAN PEKERJAAN YANG MEMBANGUN SUATU NORMA YANG SANGAT KHUSUS YANG BERASAL DARI PERANNYA DI MASYARAKAT.
  2. HUGHES EC (1963)  : MENGETAHUI YANG LEBIH BAIK TENTANG SUATU HAL DARI ORANG LAIN SERTA MENGETAHUI LEBIH BAIK DARI KLIENNYA TENTANG APA YANG TERJADI PADA KLIENNYA.
  3. WILENSKY (1964) : SUATU PEKERJAAN YANG MEMBUTUHKAN BADAN ILMU (BODY OF KNOLEDGE) SEBAGAI DASAR UNTUK PENGEMBANGAN TEORI YANG SISTEMASTIS GUNA MENGHADAPI BANYAK TANTANGAN BARU, MEMERLUKAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN YANG CUKUP LAMA, SERTA MEMILIKI KODE ETIK DENGAN FOKUS UTAMA PELAYANAN

 PENGERTIAN BERDASAR KRITERIA

 ABRAHAM FLEXNER (1915) :

  1. ADANYA AKTIVITAS INTELEKTUAL.
  2. PEKERJAANNYA BERDASARKAN ILMU DAN BELAJAR UNTUK TUJUAN PRAKTEK DAN PELAYANAN.
  3. DAPAT DIAJARKAN.
  4. TERORGANISIR SECARA INTERNAL DAN ALTRUISTIK.

GREENWOOD E (1957) :

  1. ADANYA TEORI YANG SISTEMATIK,
  2. OTORITAS,
  3. WIBAWA,
  4. KODE ETIK DAN BUDAYA PROFESIONAL.

 HALL (1968) :

  1. MEMPEROLEH BADAN PENGETAHUAN DARI INSTITUSI PENDIDIKAN TINGGI.
  2. MENJADI PEKERJAN UTAMA.
  3. ADANYA ORGANISASI PROFESI
  4. TERDAPAT KODE ETIK.

MORE DAN ROSENBLUM (1970) :

  1. MEMILIKI TEORI YG SISTEMATIS.
  2. MEMPUNYAI OTORITAS
  3. WIBAWA DAN PRESTIGE.
  4. KODE ETIK.
  5. BUDAYA PROFESIONAL
  6. MENJADI SBR UTAMA DARI PENGHASILAN.

EDGAR SCHEIN (1974)

  1. PEKERJAAN SEUMUR HIDUP DAN MENJADIKAN PENGHASILAN UTAMA.
  2. MOTIVASI YANG KUAT ATAU PANGGILAN SBG LANDASAN DLM KARIR SERTA MEMP. KOMITMEN SEUMUR HIDUP DLM KARIRNYA
  3. KELOMPOK ILMU PENGETAHUAN SERTA ADANYA KETRAMPILAN KHUSUS YG DIPEROLEH
  4. PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERDASARKAN PRINSIP2 DAN TEORI YANG ADA
  5. BERORIENTASI PADA PELAYANAN SERTA MENGGUNAKAN KEAHLIAN DEMI KEBUTUHAN KHUSUS KLIEN
  6. PELAYANAN YANG DIBERIKAN PADA KLIEN BERDASAR PD KEBUTUHAN OBYEKTIF.
  7. MEMPUNYAI PERTIMBANGAN OTORITAS DALAM SEGALA TINDAKANNYA SERTA MENGETAHUI APA YANG LEBIH BAIK UNTUK KLIEN
  8. ADANYA PERKUMPULAN PROFESI
  9. STANDAR PENDIDIKAN
  10. ADANYA IZIN ATAU UJIAN MASUK DALAM JENJANG KARIER ATAU PROFESI
  11. ADANYA BATASAN DALAM PROFESI
  12. MEMPUNYAI STATUS DAN KEKUATAN DALAM BIDANG KEAHLIANNYA DAN PENGETAHUAN YANG TELAH DIANGGAP KHUSUS
  13. DALAM PELAYANAN TIDAK DIPERBOLEHKAN MENGADAKAN ADVERTENSI ATAU MENCARI KLIEN.

KARAKTERISTIK PROFESI

FLAHERTY MJ

  1. ADANYA PENDIDIKAN KHUSUS
  2. KODE ETIK
  3. PENGUASAAN KEAHLIAN / KETRAMPILAN
  4. KEANGGOTAAN DALAM PROFESI
  5. PERTANGGUNG JAWABAN TINDAKAN

MILLER

  1. BADAN PENGETAHUAN YANG DIPEROLEH DI UNIV. SERTA ORIENTASI PD ILMU PENGETAHUAN
  2. KOMPETENSI DG LAND. TEORITIK

SHORTRIDGE (1985)

  1. KODE ETIK
  2. ORIENTASI PADA PELAYANAN BERDSR ILMU PENGETAHUAN
  3. PENGUASAAN KEAHLIAN / KETRAMPILAN
  4. MEMPUNYAI OTONOMI DLM KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB DLM BID. KEPROFESIAN.

 HAKEKAT KEPERAWATAN

  1. SEBAGAI ILMU DAN SENI
  2. SEBAGAI PROFESI YG BERORIENTASI PD PELAYANAN.
  3. MEMPUNYAI TIGA SASARAN DLM PELAYANAN KEPERAWATAN :INDIVIDU, KLG, MASY
  4. PELAYANAN KEPERAWATAN MENCAKUP SELURUH RENTANG PELAYANAN KEPERAWATAN

 KEPERAWATAN SEBAGAI PROFESI

  1. PENDIDIKAN  BERKELANJUTAN
  2. MEMILIKI LANDASAN ILMU YANG JELAS
  3. ORIENTASI PADA PELAYANAN
  4. MEMILIKI OTONOMI DALAM KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM TINDAKANNYA
  5. MEMPUNYAI KODE ETIK DALAM BEKERJA.

PERKEMBANGAN KEPERAWATAN SEBAGAI PROFESI

 SEJARAH KEPERAWATAN DI DUNIA

  1. 1.       ZAMAN SEJAK MANUSIA DICIPTAKAN
  • SEJAK MANUSIA DICIPTAKAN SUDAH MEMPUNYAI NALURI UNTUK MERAWAT DIRINYA SENDIRI SEBAGAIMANA SEORANG IBU MERAWAT KELUARGA ATAUPUN ANAKNYA DENGAN HARAPAN DEMI PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN ANAKNYA BAIK (MOTHER INSTINCT).

2.     KEPERCAYAAN AKAN ADANYA ROH (ANIMISME).

  • MANUSIA PERCAYA BAHWA PENYAKIT DISEBABKAN OLEH PENGARUH ROH
  • PENGOBATAN DAN PERAWATAN DILAKUKAN DENGAN CARA MENGUSIR ROH TERSEBUT OLEH PARA DUKUN MELALUI MANTERA ATAU ALAT-ALAT DARI ALAM (AKAR-AKARAN, DAUN-DAUNAN).
  1. 2.       KEPERCAYAAN PADA DEWA-DEWA
  • KEPERCAYAAN TERHADAP DEWA-DEWA DIMANA PENYAKIT SEBAGAI KEMARAHAN PARA DEWA SEHINGGA KUIL-KUIL DIDIRIKAN UNTUK PEMUJAAN DAN TEMPAT MEMINTA KESEMBUHAN BAGI ORANG YG SAKIT YANG DIBANTU SEORANG PRIEST PHYSICIAN (DUKUN)
  1. 3.       KETABIBAN (+ 14 ABAD SEBELUM MASEHI)
  • PADA MASA ITU PERAWATAN MASIH DILAKUKAN DENGAN TEKNOLOGI YANG SEDIKIT LEBIH MAJU.
  • PEMBALUTAN (PEMBIDAIAN), HIGIENE UMUM DAN ANATOMI MANUSIA TELAH CUKUP DIKENAL.
  • KETABIBAN BERKEMBANG DI INDIA, MESIR, YAHUDI , TIONGKOK DAN ROMA

4.     DIAKONES DAN PHILANTROP ( + 400 SM)

  • PERKEMBANGAN KEPERAWATAN  DIIRINGI DENGAN PERKEMBANGAN AGAMA NASRANI TERUS BERUBAH DENGAN ADANYA DIAKONES (KLP WANITA TUA DAN JANDA YG MEMBANTU PENDETA DALAM MERAWAT ORANG SAKIT) DAN PHILANTROP (KLP KASIH SAYANG YG ANGGOTANYA MENJAUHKAN DIRI DARI KERAMAIAN DUNIA DAN HIDUPNYA DITUJUKAN UNTUK PERAWATAN ORANG SAKIT) SHG BERKEMBANGLAH RUMAH-RUMAH PERAWATAN.
  • RUMAH SAKIT DI ROMA SEPERTI MONASTIC HOSPITAL, YG BERFUNGSI TEMPAT MERAWAT ORANG SAKIT, ORANG CACAT, MISKIN DAN YATIM PIATU.

5.     PENGARUH PENYEBARAN AGAMA ISLAM

  • PERKEMBANGAN AGAMA ISLAM PADA TAHUN 632 MASEHI MENGIRINGI KEMAJUAN PERKEMBANGAN KEPERAWATAN TERUTAMA DI ASIA KHUSUSNYA TIMUR TENGAH. PADA SAAT ITU NABI MUHAMMAD SAW MENGALAMI KEBERHASILAN MENYEBARKAN ISLAM DENGAN DIIKUTI PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI SEPERTI ILMU PASTI, KIMIA, KESEHATAN DAN OBAT-OBATAN SEBAGAIMANA DALAM ALQUR’AN TENTANG PENTINGNYA MENJAGA KEBERSIHAN.
  • TOKOH KEPERAWATAN PADA MASA ITU ADALAH RUFAIDAH YANG BERTUGAS MEMBANTU KORBAN PERANG TENTARA ISLAM.

6.     PERAWAT-PERAWAT TERDIDIK (600-1583)

  • BERDIRINYA BERBAGAI INSTITUSI DAN LEMBAGA YANG MENDIDIK INDIVIDU MENJADI SEORANG PERAWAT DI HOTEL DIEN AND LION (PERANCIS) YG KMD MJD RS TERBESAR DAN TERLENGKAP DI PERANCIS.
  • TENAGA TERDIDIK DISELEKSI DARI ROHANIAWANYG MELAKUKAN PERAWATAN TERHADAP ORNG SAKIT YANG DISEBUT “ORANG SUCI DAN ORANG TOBAT” ROHANIAWAN TERKENAL SAAT ITU SAINT FRANCISCUS DARI ASISI ITALIA (1182-1226) SEORANG YANG MERAWAT PENDERITA PENYAKIT LEPRA (KUSTA) SUATU PENYAKIT YG
  • PADA SAAT ITU DIANGGAP SEBAGAI SAMPAH MASYARAKAT DAN HIDUP BERSAMA DENGANJ MEREKA DI PENGASINGAN,

7. PERIODE AWAL PERAWAT PROFESIONAL (ABAD 18 DAN 19)

  • FLORENCE NIGHTINGALE (1820-1910) SEORANG WANITA YG BERPERAN PENTING DALAM PERKEMBANGAN KEPERAWATAN. PENDIDIKANNYA DIMULAI DI KAISER WERTH, PARIS PADA TAHUN 1850 IA KEMUDIAN MENGEPALAI INSTITUT ESTABLISHMENT FOR GENTLE WOMEN DURING ILLNES YANG KEMUDIAN BERUBAH MJD KING COLLEGE HOSPITAL
  • FLORENCE MENGAWALI PROFESI PERAWAT DIAWALI DENGAN MEMBANTU KORBAN PERANG KRIM (1854-1856) ANTAR ROMA DAN TURKI YANG DIRAWAT DI SEBUAH BARAK (SCUTORI) YANG BERKAPASITAS 1700 TEMPAT TIDUR DENGAN SARANA YG MASIH TERBATAS. BERKAT PERAWATAN YANG INTENSIV ANGKA KEMATIAN MENURUN DRASTIS DARI 41 % MJD 2 % DALAM WAKTU 6 BULAN
  • FLORENCE MENDIRIKAN RS THOMAS DI LONDON DANSEKOLAH PERAWATAN DG NAMA NIGHTINGALE NURSING SCHOOL.
  • MODEL SEKOLAH NIGHTINGALE SEBAGAI BERIKUT

ü  PEMBUATAN KEBIJAKAN DIBIDANG KEPERAWATAN BEBAS DILAKUKAN OLEH KEPALA PERAWAT

ü  SARANA BERUPA ASRAMA BAGI PESERTA DIDIK DIKEPALAI OLEH SEORANG PERAWAT

ü  MENGUTAMAKAN PROSES BELAJAR MENGAJAR DIDALAM KELAS

ü  TANGGUNG JAWAB BIMBINGAN TERHADAP PESERTA DIDIK DI LAHAN PRKTIK DIBERIKAN KEPADA KEPALA BANGSAL

  • FLORENCE NIGHTINGALE MENYELANGGARAKAN KEGIATAN DALAM RANGKA PENGEMBANGAN KEPERAWATAN

ü  MEMBUAT BUKU CATATAN PERAWAT YANG MEMUAT DASAR-DASAR KEPERAWATAN BAGI PENDIDIKAN KEPERAWATAN

ü  MENULIS BERBAGAI BUKU TENTANG ILMU KEPERWATAN

ü  MENGADAKAN LATIHAN P3K DAN PAKLANG MERAH UNTUK PARA PRAJURIT

ü  MEMPERBAIKI PRAKTIK KEPERAWTAN DI BEBERAPA RUMAH SAKIT DI INGGRIS

ü  MENYELENGARAKAN KEGIATAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN MASYARAKAT DAN PERAWAT KESEHATAN MASYARAKAT

ü  MENDIRIKAN HIMPUNAN PERAWAT NASIONAL INGGRIS (BRITISH NURSES ASSOCIATION) PADA TAHUN 1887 YANG NERUPAKAN PERKUMPULAN PERAWAT PERTAMA DI DUNIA

ü  MENDIRIKAN HIMPUNAN PERAWAT-PERAWAT KEPALA DI SELURUH INGGRIS YANG DISEBUT MATRON COUNCIL OF NURSING PADA TAHUN 1894. PERKUMPULAN INI MENJADI SEMAKIN KUAT SEHINGGA PEMERINTAH INGGRIS MENETAPKANNYA SEBAGAI PROFESIONAL FREEDOM YANG KEMUDIAN DIUNDANG-UNDANGKAN PADA TAHU 1919.

8.     PERIODE PERANG DUNIA KE 2

  • ADANYA TEKANAN BAGI DUNIA PENGETAHUAN DALAM PENERAPAN TEKNOLOGI AKIBAT PENDERITAAN YG PANJANG SEHINGGA PERLU MENINGKATKAN DIRI DALAM TINDAKAN PERAWATMENGINGAT PENYAKIT DAN KORBAN PERANG BERANEKA RAGAM.
  1. 9.       ZAMAN PASCA PERANG DUNIA KE-2
  • PENDERITAN YG BERKEPANJANGAN DAN TUNTUTAN PERAWAT UNTUK MENINGKATKAN MASYARAKAT SEJAHTERA SEMAKIN MENINGKAT. CONTOH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI AMERIKA

ü  KESADARAN MASYARAKAT AKAN  PENTINGNYA KESEHATAN

ü  PERTUMBUHAN PENDUDUK YANG RELATIF TINGGI SHG MENIMBULKAN MASALAH BARU DLM PELY. KESH.

ü  PERTUMBUHAN EKONOMI YG MEMPENGARUHI POLA TINGKAH LAKU INDIVIDU

ü  PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI KEDOKTERAN

  1. PENEMUAN OBAT-OBATAN ATAU CARA MEMBERIKAN PENYEMBUHAN
  2. UPAYA-UPAYA DALAM TINDAKAN PELAYANAN KESEHATAN SEPERTI PELAYANAN KURATIF, PREVENTIF DAN PROMOTIF
  3. KEBIJAKAN NEGARA TENTANG SEKOLAH PERAWAT

ü  KEPRAWATAN YANG BERSIFAT INDIVIDU BERGESER KEEARAH PEKERJAAN YG BERSIFAT TIM.

ü  1958 PERAWAT DIAKUI SEBAGI SUATU PROFESI SHG TERJADI PERHATIAN DALAM PEMBERIAN PENGHARGAAN PADA PERAWAT ATAS TANGGUNG JAWABNYA DALAM TUGAS

  1. 10.    PERIODE TAHUN 1950.
  • TERJADI PERKRMBANGAN KHUSUSNYA PENETAAN PADA SISTEM PENDIDIKAN SETINGKAT MASTER DAN DOKTORAL.
  • PENERAPAN  PROSES KEPERAWATAN YAITU YANG DIMULAI DENGAN PENGKAJIAN, DIAGNOSA KEPERWATAN, PERENCANAAN, PELAKSANAAN DAN EVALUASI.

 

SEJARAH KEPERAWATAN DI INDONESIA

MASA SEBELUM KEMERDEKAAN

1.     PENJAGA ORANG SAKIT (ZIEKEN OPPASSER)

  • SEBELUM VOC (1602-1799) KEPERAWATAN DI INDONESIA MASIH BERSIFAT TRADISIONAL (BERDASARKAN NALURI DAN BERHUBUNGAN DENGAN DUKUN DAN ROH)
  • 1799 RS BINNEN HOSPITAL DIDIRIKAN DI JAKARTA TENAGA PERAWAT DARI PRIBUMI YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS PERAWATAN KUSTODIALPASEN (BED-SIDECARE) DIBAGI MENJADI 2 KEPALA BANGSAL (BINNEN VADERS/ZIEKEN VADERS) DAN PENJAGA ORANG SAKIT/JURU PERAWAT (ZIEKEN OPPASER)
  • 1800 VOC BUBAR GANTI BELANDA KONDISI KESEHATAN MEROSOT 1808 DIBAWAH PEMERINTAHAN GUBERNUR JENDERAL HW DAENDELS (1762-1818) DIBANGUN RUMAH SAKIT DI BANDUNG, SEMRANG, SURABAYA DAN BEBERAPA RUMAH SAKIT KECIL  DI GATNIZUN . SDH ADA SISTEM RUJUKAN,  PENGELOMPOKAN PASIEN SESUAI DENGAN PENYAKITNYA DAN SANITASI RUMAH SAKIT, .TENAGA KESEHATAN DIBAGI DALAM TIGA KELAS YAITU SATU, DUA DAN TIGA SERTA DIBERI PANGKAT MILITER.
  • 1811-1817 PENJAJAHAN INGGRIS USAHA UNTUK MENDIDIK TENAGA KESEHATAN TERUTAMA BAGI KAUM PRIBUMI MENJADI PERHATIAN BESAR. 1851 DIDIRIKAN SEKOLAH KEDOKTERAN UNTUK PRIBUMI SCHOOL VOOR INLANDSCHE GAMEISKUNDIGEN KEMUDIAN BERUBAH MENJADI STOVIA DAN SEKOLAH BIDAN SCHOOL VOOR INLANDSCHE VROEDRUUVEN
  1. 2.       MODEL KEPERAWTAN VOKASIONAL AWAL ABAD 19

1819 RS STADSVERBAND ( JAKARTA ) KEMUDIAN PINDAH KE SALEMBA 1919 MENJADI RSCM DENGAN DATANG NYA MISI KEDOKTERAN DIMULAILAH PEKERJAAN VOKASIONAL BAGI TENAGA PERAT PADA RUMAH SAKIT MISIONARIS YANG DIAWALI DENGAN MEMBERIKAN PELATIHAN SEBAGI BAGIAN DARI KEPERAWATAN NONFORMAL

  1. 4.       MODEL KEPERAWATAN KURATIF

1920 VOKASIONAL BERUBAH MENJADI KURATIF SAAT MASA PENJAJAHAN INGGRIS (RAFLES)

        MEREKA MEMPERHATIKAN KESEHATAN RAKYAT DENGAN MOTTO KESEHATAN MILIK

  • PENCACARAN SECARA UMUM
  • MEMEBENAHI CARA PERAWATAN PASIEN DENGAN GANGGUAN JIWA
  • MEMPERHATIKAN KESEHATAN PARA TAWANAN

MANTRI CACAR SEBUTAN TENAGA PERAWAT YG DITUGASKAN MELAKSANAKAN VAKSINASI DI DESA SEDANG TENAGA PERAWAT YG LEBIH SENIOR DISEBUT VERPLEGER

5.     KEPERAWATAN SEMI PROFESIONAL

        PENDIDIKAN KHUSUS KEPERAWATAN DENGAN SISTEM MAGANG BAGI LULUSAN SEKOLAH DASAR SELAMA 4 TAHUN

6.     KEPERAWATAN PREVENTIF

  • 1925 PEMERINTAH BELANDA PADA WAKTU ITU MENGANGGAP BAHWA SANITSI DAN PENYULUHAN KESEHATAN SANGAT PENTING UNTUK MENCEGAH TERJADINYA WABAH SUATU PENYAKIT
  • DI PURWOKERTO DIDIRIKAN LEMBAGA PELAYANAN KESEHATAN (DIENSTDER VOLKS GEZONDHEID) DAN SEKOLAH MANTRI KESEHATAN PADA TAHUN 1937
  • MASA PENJAJAHAN JEPANG PADA TAHUN 1942-1945 TERJADI KEKALAHAN TENTARA SEKUTU DAN KEDATANGAN TENTARA JEPANG MENGAKIBATKAN PERKEMBANGAN KEPERAWATAN MENGALAMI KEMUNDURAN.

7.     MENUJU PELAYANAN KEPERAWATAN PROFESIONAL

  • 1945 PELAYANAN KEPERAWATAN DI INDONESIA BERKEMBANG KEARAH PELAYANAN KEP[ERAWATAN PROFESIONAL. SEKOLAH PENGATUR RAWATA DAN SEKOLAH BIDAN DIDIRIKAN
  • 1949 RUMAH SAKIT DAN BALAI PENGOBATAN BANYAK DIDIRIKAN
  • 1952 SEKOLAH PERAWAT DIDIRIKAN
  • 1962 DIBUKA PENDIDIKAN SETARA DIPLOMA
  • 1974 DIBENTUK PERSATUAN PERAWAT NASIONAL INDONESIA DARI REUNI SEKOLAH GURU PERAWAT, GURU BIDAN DAN PEMELIHARA KESEHATAN MASYARAKAT PADA TH 1967 DI BANDUNG

8.     KEPERAWATAN PROFESIONAL DI INDONESIA

  • 1983 LOKAKARYA NASIONAL KEPERAWATAN YANG DISELENGGARAKAN DEPDIKBUD, DEPKESRI DAN DPP PPNI TELAH DITETAPKAN MENGENAI TUGAS DAN FUNGSI PERAWAT
  • 1985 DIBUKA PENDIDIKAN SETARA SARJANA DI UI ( PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
  • 1992 MELALUI UU NO 23 TENTANG KESEHATAN MAKA KEBERADAAN, PROFESIONALISASI, DAN BADAN ILMU KEPERAWATAN TELAH DIAKUI OLEH PEMERINTAH. DENGAN PENGAKUAN INI KEPERAWATAN DAPAT BERKEMBANG SAMPAI KE JENJANG S 3.

 

PERTUMBUHAN PROFESIONALISME KEPERAWATAN

a)       PENATAAN PENDIDIKAN KEPERAWATAN

b)       PENATAAN PRAKTEK KEPERAWATAN

c)       PENATAAN PENDIDIKAN BERLANJUT.

d)       PENATAAN ORGANISASI PROFESI KEPERAWATAN

e)       PENATAAN LINGKUNGAN UNTUK PERKEMBANGAN KEPERAWATAN

a)       PENATAAN PENDIDIKAN KEPERAWATAN

  • MENETAPKAN JENJANG DAN JENIS PENDIDIKAN
  • PENGENDALIAN DAN PEMBINAAN  PENDIDIKAN.
  • PENGEMBANGAN LAHAN PRAKTEK DG MEMBENTUK KOMUNITAS KEPERAWATAN
  • PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN STAF AKADEMIS MENUJU TERBENTUKNYA MASYARAKAT AKADEMIS PROFESIONAL.

b)       PENATAAN PRAKTEK  KEPERAWATAN

  • PENEGEMBANGAN DAN PEMBINAAN PELAYANAN ASKEP SECARA PROFESIONAL
  • PENYUSUNAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN
  • PENERAPAN MODEL ASKEP SECARA PROFESIONAL DG MEMPERHATIKAN KODE ETIK.

c)       PENATAAN PENDIDIKAN BERLANJUT

  • PENGEMBANGAN POLA PENDIDIKAN BERKELANJUTAN.
  • PENYUSUNAN PROGRAM  PENDIDIKAN BERKELANJUTAN.
  • PENGEMBANGAN KEMAMPUAN DALAM MELAKSANAKAN PENDIDIKAN KEPERAWATAN

d)       PENATAAN ORGANISASI PROFESI KEPERAWATAN

  • PEMBINAAN ORGANISASI PROFESI KEPERAWATAN
  • PENINGKATAN KEMAMPUAN ORGANISASI PROFESI KEPERAWATAN

e)       PENATAAN LINGKUNGAN UNTUK PERKEMBANGAN KEPERAWATAN

  • MELAKSANAKAN DESIMINASI PENGERTIAN TENTANG KEPERAWATAN PROFESIONAL.
  • MENCIPTAKAN KESEMPATAN BAGI PROFESI KEPERAWATAN DENGAN SIKAP PROFESIONAL
  • MEMBERLAKUKAN UNDANG2 DALAM PEMNERAPAN PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL
  • MEMBERIKAN KEPERCAYAAN PD MASYARAKAT MELAKSANAKAN PROGRAM PRAKTEK KEPERAWATAN

 PERAN DAN FUNGSI PERAWAT

PERAN PERAWAT CHS 1989

PERAN ADALAH TINGKAH LAKU YANG DIHARAPKAN OLEH SESEORANG TERHADAP ORANG LAIN (DALAM HAL INI ADALAH PERAWAT) UNTUK BERPROSES DALAM SISTEM SEBAGAI BERIKUT :

  1. PEMBERI ASUHAN KEPERAWATAN
  2. PEMBELA KLIEN.
  3. PENDIDIK TENAGA PERAWAT DAN MASYARAKAT
  4. KOORDINATOR DALAM PELAYANAN KLIEN
  5. KOLABORATOR DALAM MEMBINA KERJA SAMA DENGAN PROFESI LAIN DAN SEJAWAT
  6. KONSULTAN/PENASIHAT PADA TENAGA KERJA DAN KLIEN
  7. PEMBAHARU SISTEM, METODOLOGI DAN SIKAP.

PERAN PERAWAT (LOKAKARYA NASIONAL 1983)

  1. PELAKSANA PELAYANAN KEPERAWATAN
  2. PENGELOLA PELAYANAN KEPERAWTAN DAN INSTITUSI PENDIDIKAN
  3. PENDIDIK DALAM KEPERAWATAN
  4. PENELITI DAN PENGEMBANG KEPERAWATAN

PERAN PERAWAT MENURUT PARA SOSIOLOG

  1. PERAN TERAPEUTIK : KEGIATAN YANG DITUJUKAN LANGSUNG PADA PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN PENYAKIT.
  2. EXPRESSIVE/MOTHER SUBSTITUTE ROLE : YAITU KEGIATAN YANG BERSIFAT LANGSUNG DALAM MENCIPTAKAN LINGKUNGAN DIMANA KLIEN MERASA AMAN, DITERIMA, DILINDUNGI, DIRAWAT, DAN DIDUKUNG OLEH PERAWAT. MENURUT JOHNSON DAN MARTIN, PERAN INI BERTUJUAN UNTUK MENGHILANGKAN KETEGANGAN DALAM KELOMPOK PELAYANAN (DOKTER, PERAWAT, DAN LAIN-LAIN)

PERAN PERAWAT MENURUT SCHULMAN

SCHULMAN BERPENDAPAT HUBUNGAN ANTARA PERAWAT DENGAN KLIEN SPT IBU DENGAN ANAK ANTARA LAIN

  1. HUBUNGAN INTERPERSONAL DISERTAI DENGAN KELEMBUTAN HATI DAN RASA KASIH SAYANG
  2. MELINDUNGI DARI ANCAMAN BAHAYA
  3. MEMBERI RASA AMAN DAN NYAMAN
  4. MEMBERI DORONGAN UNTUK MANDIRI.

FUNGSI PERAWAT

  1. INDEPENDEN : MANDIRI TIDAK TERGANTUNG PADA PROFESI LAIN
  2. DEPENDEN : DALAM MELAKSANAKAN TUGAS ATAS PESAN ATAU INSTRUKSI DARI PERAWAT LAIN / SENIOR.
  3. INTERDEPENDEN : SALING KETERGANTUNGAN DALAM SATU TIM .

TUJUH FUNGSI PERAWAT MENURUT PHANEUF 1972

  1. MELAKSANAKAN INSTRUKSI DOKTER (FUNGSI DEPENDEN)
  2. OBSERVASI GEJALA DAN RESPON PASIEN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT DAN PENYEBABNYA
  3. MEMATAU PASIEN, MEYUSUN, DAN MEMPERBAIKI RENCANA KEPERAWATAN SECARA TERUS-MENERUS BERDASARKAN PADA KONDISI DAN KEMAMPUAN KLIEN
  4. SUPERVISI SEMUA PIHAK YANG IKUT TERLIBAT DALAM PERAWATAN KLIEN
  5. MENCATAT DAN MELAPORKAN KEADAAN KLIEN
  6. MELAKSANAKAN PROSEDUR DAN TEKNIK KEPERAWATAN
  7. MEMBERIKAN PENGARAHAN DAN PENYULUHAN UNTUK MENINGKATKAN KESEHATAN FISIK DAN MENTAL

FUNGSI PERAWAT (PK ST. CAROLUS 1983)

  1. FUNGSI POKOK : MEMBANTU INDIVIDU, KELUARGA DAN MASYARAKAT SECARA MANDIRI
  2. FUNGSI TAMBAHAN : MEMBANTU INDIVIDU, KELUARGA DAN MASYARAKAT DALAM MELAKSANAKAN PENGOBATAN YANG DITENTUKAN DOKTER
  3. FUNGSI KOLABORATIF : SEBAGAI ANGGOTA TIM KESEHATAN